kai-1_ copy

Author             : Bellecious0193

Poster              : Lily21Lee

Genre              : Romance, Married Life, Family

Rate                 : PG 17

Casts               :

Kim Jongin

Jo Eun Hee

Wu Yi Fan aka Kris Wu

Na Ra Wu

Etc

Untuk paragraf yang dicetak miring menunjukkan flashback

“He has looks, power, money that would make every single man in this planet envy.. He has everything.

Those make me afraid, sometimes.

I can’t lie. He has some dark aura that make me want to run away. But in the same time he has lot of love. I don’t know how to describe. He is the most complicated man that I ever met.

I am wondering, why me? Why he should choose me? Jo Eun Hee

L’Hotel Inter Continental de Dieu, Marseille, French

10 am

Eun Hee tengah memandang ke hamparan La Vieux Port dan juga pantai-pantai indah yang terhampar di depannya. Dia berada di balik kaca kamar hotelnya yang terletak di lantai sepuluh. Pemandangan di depannya seharusnya menakjubkan atau paling tidak membuatnya terkesima. Ada La Vieux Port dengan pemandangan pelabuhan khas abad 16 lengkap dengan kapal-kapal nelayan baik modern maupun tradisional, pantai-pantai dengan air jernih berwarna biru juga langit tanpa mendung. Cuaca yang sangat sempurna untuk menikmati udara luar. Tapi, nampaknya hal itu tidak berlaku bagi Eun Hee, gadis itu menatap kosong keluar, seolah nyawanya memang sedang tidak berada disana.

Ini sudah hari ketiganya menginjakkan kaki di tanah Prancis, ke negeri yang ingin sekali dikunjunginya sejak dulu. Sebuah perjalanan yang dia fikir akan berjalan menyenangkan, tapi justru berakhir membosankan. Luar biasa bosan hingga dia ingin pulang saja ke Seoul. Mengurung diri di mansion mewah Jongin dengan berdiam diri di hotel ini, semuanya sama saja untuknya.

Adalah Kim Jongin yang menjadi alasan kebosanan luar biasa gadis itu. Sebelumnya Eun Hee sudah memikirkan hal-hal seperti bulan madu yang romantis, dan dia merasa malu untuk mengingatnya lagi. Hal itu seperti dia adalah satu-satunya pihak yang menginginkan sementara Jongin tidak. Jelas, itu melukai harga dirinya.

Gadis itu tidak pernah habis fikir dan tidak akan pernah memahami apa yang ada dalam pikiran Jongin. Pria itu mengajaknya pergi ke Marseille lalu meninggalkannya begitu saja selama tiga hari berturut-turut dengan alasan pekerjaan. Itu sungguh keterlaluan! Eun Hee sempat berniat untuk kembali saja pulang ke Seoul tapi niatan itu segera dikuburnya dalam-dalam, dia hanya tidak mau membuat Jongin murka. Akibatnya, masih bisa dia rekam jelas dalam memorinya hingga hari ini. Atau mungkin saja sampai bertahun-tahun ke depan.

Jongin sangat membingungkan Eun Hee, dan gadis itu juga bingung kenapa pria itu begitu mempengaruhinya. Bukan, bukan karena kekuasaan atau uang melimpah yang dipunyai pria itu tapi lebih kepada efek yang ditimbulkan pria itu pada tubuhnya. Eun Hee yakin jika Jongin bukanlah sosok Cha Do Hyun di drama Kill Me Heal Me yang mempunyai 7 kepribadian berbeda. Jongin lebih rumit dari sosok Cha Do Hyun, lagipula mereka tidak bisa dibandingkan. Tentu saja Jongin lebih baik!

Tunggu…apa dia baru saja membela Jongin? Sekalipun itu hanya dalam pergelutan batinnya sendiri, tapi itu cukup membuatnya luar biasa terkejut. Dan rindu itu datang lagi tanpa henti.

**

1 pm

Eun Hee tengah mengganti-ganti asal channel televisi di kamar hotelnya. Tapi, acara-acara di televisi itu sama sekali tidak ada yang menarik. Di dorong oleh rasa bosan yang luar biasa gadis itu turun ke lantai bawah. Perutnya sudah memberontak ingin diisi sebenarnya. Jadi, gadis itu memutuskan untuk makan di salah satu restoran di hotel itu.

Eun Hee memasuki sebuah restoran yang membuatnya lagi-lagi mengangakan mulutnya. Restoran itu luar biasa mewah, dengan lantai yang dilapisi karpet merah, meja dan kursi yang dicat dengan warna glossy black, lampu-lampu kristal yang menggantung apik di atasnya juga satu set alat musik di panggung yang berada di tengah-tengah ruangan. Atap restoran itu dibuat sewarna langit biru yang cerah, lengkap dengan awan-awan putih bersih, sehingga seolah siapapun yang menikmati makanan di restoran itu tengah makan di bawah langit biru yang cerah.

“Bonjour Madame Kim (bahasa Prancis- selamat pagi-siang Nyonya Kim). Eun Hee terkejut dengan sapaan tiba-tiba seorang pelayan disana. Gadis itu kebingungan karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Prancis. Terlebih bagaimana pria di depannya tahu nama suaminya?

“Errr…. I..” Dia menggigit bibirnya, masih dalam kebingungan yang tiba-tiba saja berubah menjadi rasa frustasi.

“Please follow me Mrs Kim, we have one special seat for you.” Pelayan dengan rambut pirang itu menginstruksikan Eun Hee untuk mengikutinya, dengan logat Inggris – Prancis yang begitu kental. Gadis itu mengangguk, tanpa sekalipun mengatakan apapun. Kemampuan bahasa Inggrisnya hanya bisa dikatakan lumayan, dan menurutnya itu bukan hal yang bisa dibanggakan di depan orang lain. Dan dia sedikit terkejut, darimana si pelayan tahu dia adalah istri Jongin.

Langkah Eun Hee terhenti ketika dia melihat seorang pria tengah menikmati makan siangnya seorang diri. Pria berwajah tampan dengan kulit cenderung pucat itu sesekali melirik ke arah gadgetnya, nampak mengecek sesuatu yang ada disana.

“Can I sit with him?” Eun Hee menunjuk pada sosok pria itu, membuat wajah pelayan itu berubah bingung.

“You know Mr Wu?” Tanya si pelayan dengan dahi berkerut.

“I know him.” Jawab Eun Hee mantap, dan dia juga heran dengan kestabilan suaranya saat itu. Si pelayan mengantarkan Eun Hee hingga dia berdiri di depan Kris, sementara kini Kris mengangkat wajahnya, tahu bahwa seseorang menghampiri mejanya. Wajah dinginnya tiba-tiba saja terlihat cerah begitu melihat Eun Hee, seolah mereka adalah teman lama. Faktanya, mereka baru bertemu sekali.

“Sit down please Mrs Kim, and Thomas bring us the menu.” Ujarnya pada Eun Hee dan si pelayan sekaligus.

Eun Hee mendudukkan dirinya tepat di depan Kris, lalu perasaan aman itu menyergapnya lagi. Membuatnya seolah ingin meminta agar pria itu disini saja dalam waktu yang lama. Si pelayan yang di panggil Thomas itu menyodorkan buku menu pada Eun Hee. Gadis itu mengernyit melihat daftar menu yang ada disana, dia sama sekali tidak paham dengan menu-menu yang ada disana.

“Mau aku pilihkan menu untukmu?” Tanya Kris, seolah bisa membaca kebingungan Eun Hee. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.

“One Bouillabaisse and Château Patrice 1927 for her.” Kris berkata pada si pelayan yang langsung mengangguk untuk membuatkan pesanan yang Kris katakan.

“Jadi Mrs Kim-”

“Panggil aku Eun Hee.” Gadis itu memotong perkataan Kris yang anehnya tidak menyinggung pria itu sama sekali. Senyuman manis masih terpatri di wajah tampannya.

“Baiklah Eun Hee.. Jadi, bagaimana? Apa kau menyukai Marseille?” Eun Hee menimbang-nimbang, apakah sebaiknya dia mengatakan sejujurnya atau berpura-pura bahagia saja dengan kunjungannya ke Marseille. Dia memilih opsi pertama. Saat ini kejujuran adalah yang terbaik.

“Well.. Aku tidak suka berada disini.” Jawab Eun Hee singkat membuat Kris terperanjat, namun buru-buru pria itu mengubah ekspresi wajahnya.

“Kenapa? Apa fasilitas hotel ini kurang baik? Atau pelayanannya kurang memuaskan?”

“Kau begitu peduli dengan hotel ini. Kenapa? Apa hotel ini milikmu?” Eun Hee ingin sekali memukul mulutnya sendiri yang sudah berbicara di luar kendali, tapi untunglah si pelayan segera memberikan makanan yang tadi Kris pesan untuknya. Setidaknya sedikit menyelamatkan harga dirinya walau hanya sebentar.

“Ya. Hotel ini milik kami.” Eun Hee mengerjap mendengar jawaban Kris. Jadi, hotel ini miliknya?

Wicked!

“Kami?”

“Aku dan Na Ra. Ini hotel milik kami.” Eun Hee mengangguk dan mencoba makanan di depannya, seketika takjub dengan rasa luar biasa enak dari makanan itu. Di satu sisi dia merasa tertohok. Kris dan Na Ra adalah pemilik hotel super mewah ini? Dia memang tahu jika suaminya kaya raya tapi apa harus orang-orang yang dekat dengannya juga luar biasa kaya?

“Ada yang ingin kau tanyakan?” Tanya Kris, seolah pria itu bisa membaca jalan pikirannya. Eun Hee jadi ngeri dengan kemungkinan Kris bisa membaca pikiran, seperti Edward Cullen, mungkin.

“Aku punya beberapa pertanyaan.”

“Katakan.”

“Dimana Mrs Wu?” Kris terkekeh dengan pertanyaan Eun Hee, gadis di depannya memang unik.

“Na Ra baru saja pergi ke Chicago.”

“Chicago? Apa Mrs Wu adalah wanita karir yang super sibuk? Dia akan melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia untuk urusan bisnisnya?” Eun Hee berbicara dalam satu tarikan nafas lalu buru-buru memakan lagi makanannya, menyembunyikan wajahnya.

“Well.. Na Ra memang seperti itu. Tapi, kali ini bukan untuk urusan bisnis. Dia hanya akan menghadiri premier film aktor kesayangannya Channing Tatum.. Ah ya… Dan Douglas Booth. Dia sedikit tergila-gila pada mereka.” Kris tersenyum, menyesap white wine di depannya. Sementara Eun Hee hanya mengangakan mulutnya, hampir tidak percaya. Bagaimana bisa seorang pria begitu santai menceritakan obsesi istrinya pada pria lain. Mungkin Kris Wu juga sedikit tidak waras, atau hanya dia yang menganggapnya seperti itu.

“Kau tidak cemburu? Maksudku Mrs Wu sangat terobsesi pada pria-pria Hollywood itu. Bukankah seharusnya kau cemburu?”

Kris terkekeh sebelum menjawab pertanyaan Eun Hee. “Dia hanya terobsesi pada mereka sebatas itu saja. Kau tahu? Hanya sebatas mengagumi tapi tidak sampai pada taraf mencintai. Dan sekalipun Na Ra mencintai mereka aku tidak perlu khawatir. Na Ra terikat denganku, seumur hidupnya.”

Bulu kuduk Eun Hee seketika meremang, mengingat dia juga dalam posisi yang sama dengan Na Ra. Bedanya Kris dan Na Ra saling mencintai bahkan sampai ribuan tahun kedepan jika kedua manusia itu punya usia cukup panjang. Tapi dia dan Jongin? Dia tidak yakin dengan perasaannya, apa lagi perasaan Jongin. Eun Hee meneguk wine-nya dengan tergesa hingga gadis itu hampir saja tersedak saat sensasi panas mengaliri kerongkongannya.

“Kau baik-baik saja Eun Hee? Mungkin sebaiknya kau tidak meminum wine.” Nada bicara Kris terdengar khawatir yang dibalas senyuman ringan Eun Hee.

“Tidak apa-apa. Apa aku masih boleh bertanya?”

“Tentu.”

“Bagaimana kalian bisa dekat dengan Jongin. Dan aku bisa melihat dengan jelas bahwa Jongin, dia sedikit..patuh pada istrimu.” Eun Hee berhati-hati dalam memilih kata-katanya. Dia merasa lega karena tidak jadi mengatakan kata “takut” yang dirasanya akan menyinggung perasaan Kris.

“Kau bisa mengatakan jika Jongin “takut” pada Na Ra. Aku tidak akan marah.” Kris menjawab kalem, membuat Eun Hee tertohok seketika untuk kesekian kalinya. Jadi, apa Kris benar-benar bisa membaca pikiran? “Well..sebenarnya Jongin adalah adik yang baik dan penurut. Tentu saja itu hanya berlaku jika dia sudah berhadapan dengan Na Ra. Mereka tumbuh besar bersama karena rumah mereka dulu bertetangga, menghabiskan belasan tahun bersama. Jadi, menurutku karena pengaruh kebersamaan yang berlangsung begitu lama dan intens itu membuat kepribadian mereka sangat mirip. Walaupun tentu saja Na Ra terlihat lebih mengerikan bagi orang-orang. Atau sama saja? Control freak, penuh intimidasi, berkuasa dan terkadang membuat frustasi.” Kris menghembuskan nafasnya perlahan, menyesap wine-nya lagi. Memperhatikan Eun Hee yang sudah menutup mulutnya lagi, nampak jelas kembali menelan pertanyaan-pertanyaan yang pasti tengah berseliweran di otaknya.

“Kris-ssi..kau tentu sudah begitu mengenal istrimu luar dalam. Tapi, kau sama sekali tidak keberatan jika orang lain menganggap istrimu seperti itu?” Eun Hee menyuarakan satu pertanyaannya, entah kenapa mendadak begitu penasaran dengan kisah Mr dan Mrs Wu.

“Orang lain? Kau istri Kim Jongin, kau bukan orang lain Eun Hee. Dan aku tahu, kau cukup pintar untuk bisa menilai seperti apa Na Ra yang sebenarnya. Dan aku yakin kau jauh lebih memahami Jongin nantinya.”

“Kenapa kau bisa seyakin itu?” Kris mengangkat bahunya sebagai jawaban yang mengisyaratkan bahwa Eun Hee harus mencari jawabannya sendiri.

“Kim Eun Hee… Jongin memang terlihat menakutkan. Tapi, kau juga harus membuka hatimu, memberinya kesempatan untuk kalian saling mengenal..ah tidak maksudku untuk kau lebih mengenalnya. Dia sudah terlalu mengenalmu hanya saja butuh waktu untuk memahamimu. Aku harus pergi. Dan kau juga.” Tatapan Kris tertuju pada seseorang di belakang Eun Hee.

“Ne?” Tanyanya mendengar perkataan Kris sebelum berbalik dan membelalakkan matanya melihat Jongin sudah berdiri disana. Dengan kemeja putih dan jas yang disampirkan ditangannya. Rambutnya terlihat acak-acakan. Dan Eun Hee tidak tahu kenapa rasanya oksigennya tersedot habis seketika.

**

“Kita mau kemana?” Tanya Eun Hee ketika keduanya sudah berada di dalam Maserati Gran Carbio milik Jongin. Eun Hee jadi semakin heran, apakah suaminya itu mempunyai mobil mewah di semua negara?

“Rumah.” Jawab Jongin singkat, kakinya menginjak pedal gas hingga kecepatan 100km/jam.

“Kau punya rumah disini?” Eun Hee tidak bisa menyembunyikan nada terkejut di kalimatnya membuat Jongin tersenyum, hanya sesaat dan itu sudah cukup membuat Eun Hee lupa cara menarik nafas dengan benar. Gadis itu merasa idiot seketika, dia adalah istri sah dari Kim Jongin tapi dia tak pernah menyadarai atau belum menyadari betapa kayanya suaminya itu. Mungkin dia harus mencari tahu nanti. Akan sangat memalukan jika dia tidak tahu apa-apa tentang suaminya.

“Rumah kita sweetheart. Milikku adalah milikmu juga. Dan setelah pulang dari sini kau bisa memulai kuliah privatmu di rumah. Aku sudah mengatur semuanya. Buku-buku, dosen-dosen yang kau butuhkan dan semuanya.” Emosi Eun Hee tiba-tiba saja naik ketika mendengar ide mengenai kuliah privat yang menurutnya tidak masuk akal itu.

“Aku tidak suka dengan kuliah privat seperti rencanamu. Aku ingin kuliah seperti biasa saja.”

“Apa aku nampak seperti sedang memberikanmu pilihan Mrs Kim?” Jongin bertanya retoris, membuat Eun Hee terdiam seketika. Dia benar-benar tidak bisa membantah Jongin!

Di sisa perjalanan Eun Hee lebih memilih untuk memandang ke arah luar kaca mobil. Sementara Jongin seperti biasa diam-diam memperhatikan Eun Hee. Seperti yang dilakukannya sejak delapan tahun lalu.

**

5.30 pm

Jongin’ House, near Notre Dame de La Garde, Marseille, French

Eun Hee ingin sekali memaki saat melihat “rumah” yang Jongin katakan ternyata adalah sebuah mansion mewah yang luasnya hampir sama dengan mansionnya di Seoul. Mansion itu nampak berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan yang sebelumnya di lewatinya. Saat Eun Hee turun dari mobil dia hampir saja kembali mengangakan mulutnya melihat Notre Dame de La Garde yang terkenal berada tak jauh dari mansion Jongin.

“Kenapa? Terkejut?” Tanya Jongin, membuyarkan konsentrasi Eun Hee mengagumi Notre Dame de La Garde yang terkenal.

“Ti-tidak.” Jawabnya gugup. Jongin menautkan jemarinya di jemari Eun Hee dan menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam mansion mewahnya.

“Tidak ada yang menarik dari bangunan yang kau kagumi barusan Eun Hee-ya.”

“Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu? Notre Dame de la Garde adalah bangunan yang luar biasa indah. Kau bisa-” Jongin menarik tubuh Eun Hee dan melumat bibirnya dalam, menelusupkan lidah hangatnya hingga dia bisa mengeksplor rongga mulut gadis itu. Tangannya dia biarkan menjuntai di sisi tubuhnya, pertahanan terakhirnya agar dia tidak bertindak lebih. Karena, sekali dia menggerakkan tangannya untuk menyentuh Eun Hee dia akan kehilangan kontrol diri. Jongin melepaskan pertautan bibir mereka saat keduanya sama-sama membutuhkan oksigen untuk bernafas. Eun Hee menunduk malu, dan memilih untuk memandangi dada Jongin yang ada di depannya. Dan sialnya itu sama sekali tidak membantu.

“Shit! I want more.” rutuknya dalam hati, tapi tentu saja dia tidak akan membabi buta menyuruh Jongin menidurinya, itu akan sangat memalukan. Hormonnya tentu saja sudah berubah. Terlebih setelah mereka melewati malam pertama. Hubungan di atas ranjang tentu berubah menjadi kebutuhan utama.

“Kau sangat suka beradu pendapat denganku Mrs Kim.” Jongin tersenyum lalu menarik Eun Hee menuju ke lantai dua mansionnya. Mereka memasuki sebuah kamar yang lagi-lagi luar biasa luas, membuat Eun Hee berfikir bahwa Jongin adalah orang yang terobsesi pada segala sesuatu yang luas. Kamar itu terdiri dari sebuah ranjang king size dan lemari super besar untuk menaruh pakaian. Ada sebuah pintu bercat putih  di tengah-tengah ruangan itu yang nampaknya menghubungkan ruangan itu dengan ruangan lain.

“Mandilah.” Ucap Jongin singkat lalu mengecup dalam dahi Eun Hee sebelum berlalu dari sana.

“Tunggu. Kau mau mau kemana?” Eun Hee setengah berteriak ketika Jongin sudah ada di ambang pintu.

“Ke kamarku sweetheart. Aku tidak bisa berada dalam satu kamar denganmu. Kau tahu? Pertahanan diriku tidak sekuat itu.” Jongin menjawab kalem namun tidak bisa menyembunyikan nada frustasi di dalamnya. “Dan jika kau membutuhkanku, kau tinggal masuk ke kamarku melalui pintu itu.” Jongin menunjuk pada pintu putih di tengah-tengah ruangan yang menjawab pertanyaan Eun Hee tentang kegunaan pintu itu.

Gadis itu terdiam selama beberapa saat di tengah-tengah ruangan sebelum dia beranjak ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Pikirannya perlu dijernihkan. Dan sayangnya air hangat sama sekali tidak membantu untuk menjernihkan pikirannya dari Kim Jongin.

Eun Hee tidak berlama-lama hanya untuk mandi, dia memutuskan cepat-cepat keluar dari sana dan menemui Jongin. Ada hasrat mendesak yang tidak dipahaminya. Hasrat dimana dia ingin berada lebih lama lagi dengan Jongin, jika bisa setiap hari. Karena, dia juga tidak memahami kenapa berjauhan dengan Jongin bisa semenderita ini.

Setelah mengenakan pakaian yang ada di lemari, t-shirt longgar dan hotpants dia berjalan ke arah pintu yang menghubungkan kamarnya. Kali ini tanpa rasa ragu dia membukanya, dan dia disambut oleh sebuah lagu pop yang menyenangkan. Suara lembut si penyanyi wanita memenuhi ruangan itu. Ada sosok Kim Jongin yang berdiri menghadap kaca besar rumahnya. Pria itu seperti biasa luar biasa menawan, terutama dengan kemeja putih dan sinar matahari terbenam yang menerpanya. Eun Hee bahkan sudah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan betapa dia mengagumi punggung Jongin, dan betapa dia rela menukar kebebasan yang diimpikannya untuk memeluk punggung itu setiap hari.

Something always brings me back to you.

It never takes too long.

No matter what I say or do I’ll still feel you here ’til the moment I’m gone.

 

You hold me without touch.

You keep me without chains.

I never wanted anything so much than to drown in your love and not feel your reign.

Jongin merasakan detak jantungnya bertalu-talu, seolah ingin melompat keluar dari rongganya. Dia tahu, ada Eun Hee yang masuk ke kamarnya dan pria itu mati-matian untuk tidak berbalik dan kembali melanjutkan ciuman mereka tadi. Suara Sara Bareilles yang menyanyikan lagu Gravity serasa begitu sesuai dengan suasana kali ini. Eun Hee adalah gravitasinya, sesuatu yang selalu menahannya untuk berada di bumi.

Eun Hee semakin mendekat ke arah Jongin saat chorus lagu itu terdengar di ruangan.

Set me free, leave me be. I don’t want to fall another moment into your gravity.

Here I am and I stand so tall, just the way I’m supposed to be.

But you’re on to me and all over me.

Suara Eun Hee seperti tercekat di tenggorokannya. Tapi tangannya bergerak di luar kendalinya. Tangannya sudah menyentuh punggung Jongin, mengusapnya perlahan. Pria itu menegang merasakan sentuhan tangan Eun Hee. Saat Jongin ingin berbalik, Eun Hee menahannya.

“Berhenti! Jangan berbalik Jongin.” Ucap Eun Hee cepat. “Aku…aku ingin menyentuh punggungmu. Kau punya punggung yang sangat..mengagumkan.” Eun Hee menggigit bibir bawahnya. Organ tubuhnya serasa bergerak di luar kendalinya.

“Apa kau baru sadar jika kau punya suami yang luar biasa mempesona? Dan…ngomong-ngomong kau boleh lebih dari menyentuh punggungku.” Jongin berbicara dengan susah payah. Menahan hasrat yang sudah menyelubunginya saat itu.

“Bisakah?” Tanya Eun Hee retoris, masih mengusap punggung Jongin. Dan detik berikutnya, entah keberanian darimana atau memang mereka tercipta seperti dua medan magnet yang saling tarik menarik, Eun Hee sudah melingkarkan tangannya di sekitar perut pria itu dan menenggelamkan kepalanya di punggung Jongin. Gadis itu tidak pernah merasa senyaman itu, dugaannya benar saat pertama kali melihat punggung Jongin di bawah temaram bulan beberapa hari lalu.

“Ternyata benar…” Ujar Eun Hee samar. “Punggungmu memang sangat nyaman.”

Eun Hee semakin mengeratkan pelukannya di perut Jongin, menelan bulat-bulat gengsi dan rasa takutnya. Jongin meletakkan tangannya di atas tangan Eun Hee, mengusapnya perlahan.

” Kim Eun Hee..kau tahu? Aku ingin sekali berbalik dan menciummu.” Ujar Jongin membuat Eun Hee melonggarkan pelukannya tapi tertahan oleh tangan Jongin. “Kau tahu alasanku mengajakmu kemari huh?” Eun Hee menggeleng pelan. Karena dia juga tidak tahu alasan apa Jongin membawanya ke Marseille lalu meninggalkannya dalam tiga hari yang menyiksa. “Honeymoon. Aku rasa kita butuh bulan madu. Tapi, aku sudah berjanji padamu untuk tidak menyentuhmu kecuali kau yang memintaku. Hal itu…sejujurnya sangat menyiksaku.” Jongin memejamkan matanya, menghalau sinar matahari terbenam yang menelusup masuk ke ruangannya.

“Kenapa kau menikahiku?” Eun Hee melontarkan pertanyaan yang membuat Jongin berbalik seketika, menatap wajah gadis itu tepat di iris matanya. “Kenapa kau menikahiku Kim Jongin? Dari semua gadis di dunia ini? Kenapa aku?” Ulangnya lagi. Ekspresi wajah Jongin berubah seketika, nampak tersinggung dan marah.

“Aku tidak akan mengatakannya. Kau harus menyadarinya sendiri.”

“Kita bahkan belum lama -”

“Kenal? Aku bahkan sudah mengenalmu, jauh sebelum pertemuan kita di kantorku.”

Mwo?” Hanya pertanyaan itu yang terlintas di otak Eun Hee. Sementara Jongin mengusap pelan pipi Eun Hee, membuat gadis itu memejamkan mata, merasakan hangatnya tangan pria itu.

“Ternyata aku memang tidak pernah seberarti itu dalam hidupmu Eun Hee-ya. Kau bahkan tidak mengingatnya sama sekali. Sekarang, saat kau dan aku sudah menikah, saat aku sudah memilikimu, tempat yang selalu aku impikan sejak delapan tahun lalu tetap saja tidak bisa aku raih.” Jongin terdiam selama beberapa saat tanpa sekalipun mengalihkan tatapannya dari wajah Eun Hee. Seolah wajah gadis itu adalah tujuan hidupnya, pusat hidupnya dan itu benar. “Aku memang memilikimu, tubuhmu. Tapi tidak hatimu.”

Eun Hee mengerjapkan matanya, seketika bingung dengan apa yang diucapkan oleh Jongin. Delapan tahun? Apa Jongin sudah mengenalnya selama itu? Dia bahkan tidak ingat apapun tentang pria itu.

Eun Hee merasakan hembusan nafas Jongin di wajahnya, dekat..begitu dekat hingga dia memejamkan mata dan apa yang terjadi selanjutnya adalah Jongin yang melahap bibirnya dengan rakus, tanpa ampun, serta sarat akan rasa frustasi.

“You are mine sweetheart.” Bisiknya lagi sebelum melepas ciuman itu. Dan selanjutnya apa yang dikatakan Jongin membuat Eun Hee seolah tidak lagi berpijak di bumi dengan benar. Jika saja Jongin tidak memegangnya dengan erat, pasti dia sudah merosot dan jatuh di lantai. “Before… I always thought that love was nothing. Love was just some childish feeling from human to another. I never believed in love.. Before…

But those stupid opinions already changed because of you.

Me, the man who has power, looks and money fall in love with you in the very first sight. Don’t you think it’s funny or even disgusting in it’s way? I am the one who never believed in love finally fall in love with you.

You could laugh on me for the entire of your life. But…Kim Eun Hee.. You should to know something, once I fall I won’t go back. It’s mean forever.

Forever with you…” Jongin mengakhiri perkataannya dengan mengecup dalam dahi Eun Hee. “Mau berenang?” Tawar Jongin, belum sepenuhnya bisa mengembalikan kesadarannya, Eun Hee hanya terdiam. Pria itu tersenyum simpul lalu membuka pintu kaca di kamarnya dan menampilkan pemandangan indah Les Calanques, lampu-lampu rumah dan jalanan yang sudah mulai dinyalakan, tapi lebih dari itu lagi-lagi hanya punggung Jongin yang menyita perhatian Eun Hee.

Katakan saja bahwa dia gila akan obsesinya pada punggung pria itu. Atau lebih parahn ya dia sudah jatuh cinta pada apa yang ada pada pria itu? Dan sayangnya, gengsi menahannya untuk mengakui semua itu. Sekalipun itu hanya ada dalam hatinya saja, tetap…dia masih belum mau mengakuinya.

**

Summer, July 25 2007

Paris, Prancis

Jongin’ POV

Hari ini cuaca Paris begitu terik, walaupun tak sepanas Seoul tapi cuaca hari ini benar-benar menyengat. Kulit tubuhku rasanya sudah terbakar, sementara kerongkonganku sudah kering. Aku menekan speed dial nomor 1 di ponselku sebelum menempelkannya di telinga.

“Noona, apa masih jauh? Tidak bisa ya menjemputku saja? Aku sudah di…” Aku melihat papan nama jalan di kananku sebelum berbicara. ” La Rue Lepin nomor 5, apa masih jauh?”

“Tidak, kau tinggal berjalan 200 meter lagi dan voilà kau akan sampai. Kenapa tidak meminta Monsieur Dupoir untuk menjemputmu?”

“Aku tidak suka dengannya, aku tidak mau dijemput olehnya.” Gerutuku, dan aku yakin Na Ra noona sedang berusaha mati-matian untuk tidak mencekikku saat ini. Aku terkekeh pelan membayangkannya.

“Bilang saja kau tidak bisa bahasa Prancis untuk berkomunikasi dengannya. Kau payah Kim Jongin.” Sial! Na Ra noona tahu betul kelemahanku. Tapi, bukan Kim Jongin yang akan menyerah begitu saja dalam sebuah perdebatan.

“Setidaknya aku tampan.” Ujarku cuek, dan tawa Na Ra noona meledak di seberang sana. Sudah pasti aku sudah mengatakan kebodohan tingkat akut di mata Na Ra.

“Yak yak yak! Noona, apanya yang lucu?” Sungutku kesal.

“Anyi. Sudah cepat kemari, sebentar lagi akan hujan.” Ia menutup telfonnya sebelum aku sempat memakinya balik. Sejenak aku menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit yang cerah. Aku berpikir bahwa noona pasti sudah tidak waras dengan mengatakan bahwa sebentar lagi turun hujan dan –

Terkutuklah kau Lee Na Ra! Aku memaki dalam hati saat tetes-tetes air turun tanpa ampun membasahi tubuhku. Bahkan langit masih cerah dan matahari bersinar begitu terik, tapi air seperti dicurahkan begitu saja dari langit. Langkah lebarku membawaku menuju ke sebuah emperan toko yang tutup. Lambat laun, hujan membuat langit menjadi gelap dan matahari sudah dengan tenangnya bersembunyi di balik awan yang gelap.

Aku sedikit mengusap wajahku, membersihkan sisa-sisa air yang ada di pakaianku, dan saat aku tengah sibuk dengan kegiatanku, aku mencium aroma yang baru ku temui sekali dalam seumur hidupku. Aroma itu sangat memabukkan, campuran antara black orchid dan air hujan yang segar. Aku hampir kehilangan akal sehatku saat itu tapi untungnya tubuhku cepat tanggap. Karena detik berikutnya kakiku sudah melangkah mengikuti sumber aroma yang membuatku takjub luar biasa. Dan disana, aku melihat sosoknya. Sosok mungil yang mungkin hanya setinggi daguku, dengan rambut hitam panjang, dan bahunya terlihat rapuh. Sangat nyaman untuk dipeluk.

Terkutuklah aku yang berpikiran terlalu jauh!

Gadis itu, gadis dengan aroma black orchid-nya masuk ke sebuah café di jalanan Rue Lepin di Montmartre. Aku rasa dia seorang penyihir, atau mungkin itu hanya ilusiku saja. Yang jelas, dia punya daya magis luar biasa yang bisa membuatku seketika mengikutinya. Kemana saja.

**

A café Montmartre, French.

 

Seketika aku lupa bahwa aku pergi ke Paris untuk bertemu dengan Na Ra noona. Mendiskusikan segala hal tentang liburanku yang sudah sangat aku nantikan. Keliling Eropa tentu terdengar sangat menyenangkan. Tapi, itu tidak lagi, semua rencanaku sudah berubah saat aku melihat sosok gadis mungil yang belum aku ketahui namanya, ia tanpa susah payah sudah merubah rencana liburanku. Rencana hidupku.

 

Aku masih memperhatikannya, ia tengah memandang ke luar jendela. Ke dalam ketiadaan yang tidak aku pahami. Lalu aku berpikir bahwa seharusnya aku memiliki kemampuan seperti Edwad Cullen. Apa? Aku mengharapkan kemampuan seperti vampir berkilau itu? Aku pasti sudah tidak waras. Padahal, selama ini aku selalu mengejek obsesi gadis-gadis, pada mahluk penghisap darah yang sama sekali tak ada menarik-menariknya itu. Untuk gadis mungil itu, aku akan menelan segala gengsiku. Aku benar-benar ingin membaca pikirannya. Tahu apa yang ada dalam benaknya.

 

Gadis itu tersenyum saat seorang pelayan menghampirinya, dan aku untuk pertama kalinya mendengar suaranya yang sehalus beludru. Atau itu sekali lagi hanya ilusiku saja? Karena ia berbicara dalam bahasa antara Inggris dan Prancis yang kacau, lalu jari-jarinya menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal seraya mengatakan “Eothokkae…eothokkae” berkali-kali.

Tanpa sadar, aku menarik dua sudut bibirku lalu dalam hati bersorak, dia orang Korea! Aku punya kesempatan! Ya..kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, mendekatinya dan jika beruntung memilikinya. Aku Kim Jongin yang dingin, kaku dan hampir tak tersentuh untuk pertama kalinya ingin memiliki seseorang. Rasanya seperti idiot ketika aku terus mengatakan tentang ketidakpercayaanku pada cinta pada pandangan pertama dan pada cinta itu sendiri, justru terjebak di dalamnya. Bukan terjebak tapi aku yang menjebak diriku sendiri.

Dan aku memutuskan untuk jatuh cinta pada gadis itu.

**

Na Ra House, La Rue Lepin No. 30, Montmartre, Seoul

 

“Noona, tanyakan pada Mr Evans tentang seluruh data keluar dan masuk Paris. Bisakah?” Tanyaku menggebu-gebu saat aku baru saja sampai di ambang pintu rumahnya. Na Ra noona mengernyitkan dahinya, heran dengan perkataanku.

“Kau gila ya?” Cecarnya, lalu masuk kembali ke dalam rumahnya, aku mengikutinya dan mendudukkan diri di sofa hitam di ruang tengahnya. Gadis itu membuatku lupa kalau aku baru saja melakukan lima belas jam perjalanan yang melelahkan dari Incheon ke Charles de Gaulle.

“Tidak noona! Aku serius. Aku yakin Mr Evans pasti bisa melakukannya mengingat ayahmu adalah pengusaha maha penting disini.” Ujarku lagi, kali ini dengan nada memohon. Mr John Evans adalah salah satu pengusaha paling sukses tidak hanya di Prancis bahkan sudah menyentuh seluruh Eropa dan Amerika. Mendapatkan data gadis yang aku maksud tentulah bukan hal sulit.

“Aku perlu punya alasan yang kuat kenapa kau menginginkannya? Dan itu seharusnya bukan alasan kekanak-kanakkan atau tidak penting.” Na Ra noona menatapku tajam dengan iris coklat terangnya yang seolah sedang meng-xray-ku. Aku tersentak, tentu apa yang akan aku katakan terdengar konyol. “Katakan Kim Jongin. Kau tentu punya alasan kuat dibalik permintaanmu ini.” Cecarnya tanpa jeda. Aku memejamkan mataku, frustasi.

“Baiklah, tapi noona harus berjanji untuk tidak menertawakanku. Ok?” Aku mencoba bernegosiasi walaupun aku tahu, bernegosiasi dengan Na Ra noona tidaklah mudah.

“Tergantung.” Tebakanku tak meleset sama sekali. Dia bahkan sudah membuatku mental breakdown hanya dengan mengatakan satu kalimat itu.

“Noona, kau tahu? Kau bisa sangat menyebalkan!”

“Apa yang bisa kau tawarkan jika aku membantumu.”

“Yak!”

“Anggap saja ini bisnis! Aku tak bisa melakukan apapun tanpa alasan dan keuntungan.” Aku mengutuk dalam hati begitu mendengar perkataanya. Terpujilah Mr dan Mrs Evans yang sudah membesarkan putri tunggalnya sedemikian rupa.

“Dengar Lily Charlotte Duerre Evans..” Aku menyebutkan nama lengkapnya, menatapnya balik dengan ekspresi wajahku yang menegang.”Aku baru saja bertemu dengan seorang gadis. Dia orang Korea. Dan aku…” Aku menarik nafasku dalam-dalam, masih mencoba berpikir jernih bahwa apa yang aku katakan nantinya tak semata hanya sebuah kekhilafan sesaat. “Jatuh cinta padanya.”

Ekspresi Na Ra noona tidak berubah, hanya ada kerutan di dahinya, menandakan ia butuh penjelasan lebih. Dan aku tidak bisa menjelaskan apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu aku sudah jatuh cinta pada seorang gadis. Dan aku merasa idiot seketika.

**

Winter, November 6 2007

Seoul

Ini musim dingin pertamaku sejak mengenalnya. Musim dingin yang berbeda. Sedikit lebih “hangat” dari musim dinginku sebelum-sebelumnya. Aku dan dia lagi-lagi berada di café yang sama. Jika dulu di Montmartre maka sekarang aku dan dia ada di café di Seoul. Aku masih saja memandangi wajahnya, tanpa jemu.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana aku bisa menemukannya di Seoul dan berakhir dengan duduk disini dengannya. Kalian tentu…maksudku aku, aku tidak akan senang jika kalian tahu bagaimana aku mengejar gadis ini hingga kemari. Itu akan sangat memalukan dan melukai harga diriku. Jadi, biar bagaimana aku mendapatkan informasi itu aku saja yang tahu. Dan Na Ra noona, dan Mr Evans dan Tuhan. Aku tidak mau kelewat banyak orang yang tahu.

Aku yang masih sibuk dengan memandangi wajahnya dikejutkan dengan pemandangan lain saat ia kedatangan teman-temannya. Aku kesal dengan mereka, cemburu mungkin. Karena mereka menghalangi pandanganku pada gadis itu. Jo Eun Hee.

Aku perlu meralat kata-kataku, aku memang berada di café yang sama dengannya, tapi kami tidak duduk bersama. Lebih tepatnya dia duduk sendiri dan aku disini memandanginya. Tanpa jemu. Lagi dan lagi.

Aku sudah tahu banyak hal tentangnya. Tentang sekolahnya, hobinya, rumahnya, usaha keluarganya dan masih banyak lagi. Katakanlah, aku stalkernya. Sayangnya aku tidak malu untuk mengakuinya.

Aku kembali memfokuskan pandanganku padanya, matanya menyipit saat tertawa lebar. Seketika aku jadi berpikir, apakah dia bisa tertawa seperti itu denganku? Maksudku, aku ingin menjadi alasannya tertawa. Kita bisa tertawa bersama. Berbahagia bersama.

**

Spring, 2008

Seoul

Aku bersamanya lagi, lebih tepatnya aku memandanginya lagi. Dia disana, dengan maxi dress berwarna biru muda yang sedikit menenggelamkan tubuh mungilnya. Ia duduk di bangku taman, dengan sebuah buku di tangannya, nampak tenggelam dengan dunianya sendiri.

“Jonginnie..” Suara itu lagi. Jika saja bukan Na Ra noona yang memanggilku tentu aku sudah menghajar orang itu habis-habisan karena sudah menganggu kegiatanku memandangi gadis itu.

“Hmmm..”Gumamku tanpa menoleh ke arahnya. Na Ra noona mendudukkan dirinya tepat di sampingku, dan aroma cokelat khasnya menguar memenuhi indera penciumanku. Aku menoleh ke arahnya, ia sama sepertiku sebelumnya menatap Eun Hee dari tempat kami duduk.

“Kau masih mengikutinya?” Tanyanya retoris.

“Kau tak perlu jawaban kan noona?”

“Kenapa tidak mengajaknya berkenalan saja. Menyapanya, mungkin?” Aku mencengkram ujung bangku panjang yang kami duduki, terkejut dengan saran noona. Berkenalan? Hal itu belum sempat terpikirkan olehku, karena aku kelewat asyik dengan memandanginya saja.

“Apa perlu?” Tanyaku dan Na Ra noona mencebikkan bibirnya, mungkin ingin mengejekku.

“Aku tidak tahu jika kau sebodoh itu.” Dan lagi-lagi tebakanku benar, ejekannya baru saja terdengar, bukan? Aku jadi bertanya-tanya bagaimana Kyuhyun Hyung betah sekali menjalin hubungan dengannya. “Kau harus segera mengajaknya berkenalan. Lalu, jika kau beruntung kau bisa mengajaknya berkencan.” Tambahnya lagi.

“Apa aku terlihat seperti ingin mengajaknya berkencan?”

“Dari cara kau memandangnya, aku tidak perlu bertanya bagaimana kau secara tidak langsung mengklaimnya sebagai milikmu. Hanya saja, jika kau kelewat pengecut seperti ini. Aku jadi berpikir apakah dia mau denganmu?” Cibirnya lagi, tanpa perasaan.

“Memangnya siapa yang akan menolakku? Setidaknya aku tampan dan kaya kan?” Aku mengeluarkan argumen yang membuat Na Ra noona begidik seketika. Jijik mungkin.

“Tidak semua hal diukur dengan ketampanan dan uang.”

“Lalu, apa noona akan berpacaran dengan Kyuhyun Hyung jika dia jelek dan tidak kaya?” Aku masih tidak mau mengalah, setidaknya aku harus memenangkan perdebatan ini.

“Aku tidak suka berandai-andai. Faktanya, Kyuhyun kaya raya dan tampan. Anggap saja aku beruntung.” Ujarnya cuek. Sial! Na Ra noona memang ahli dalam perdebatan. Setelahnya aku melihat Na Ra noona berjalan meninggalkanku tanpa berkata apa-apa lagi. Dia sangat menyebalkan dalam banyak hal. Tapi tetap saja dia noona-ku, orang yang sudah berbelas tahun hidup denganku. Dia hanya tetanggaku pada awalnya, tapi kesepian karena kesibukan orangtuaku membuatku seringkali menghabiskan waktu bersamanya. Dia noonaku yang paling menyebalkan, dan anggapan itu tidak akan berubah sampai kapanpun.

Seperginya noona, detik berikutnya aku menatap Jo Eun Hee lagi, berharap dengan melihat wajahnya aku bisa menghilangkan denyutan di kepalaku karena perdebatanku dengan Na Ra noona. Double shit! Dia sudah tidak ada ditempatnya.

 

**

Summer 2009

Seoul

Aku berlari-lari memasuki rumah Na Ra noona dan segera menuju ke perpustakaan pribadinya, tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya. Aku mengernyitkan dahiku saat pintu perpustakaan tak ditutup rapat, dan seketika mataku terbelalak karena terkejut. Disana ada Na Ra noona tengah berciuman mesra dengan Kyuhyun Hyung. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiranku dan terus berciuman seperti tak ada hari esok. Bukannya menghindar karena pemandangan di depanku, aku justru mengamati cara mereka berciuman. Bagaimana Kyuhyun Hyung memeluk posesif pinggang Na Ra noona, dan noona yang menarik pelan rambut Kyuhyun Hyung. Juga saat bibir mereka saling melumat satu sama lain, dari sudut, ke sudut, atas dan bawah. Menyeluruh. Memastikan tak ada satupun yang terlewat. Aku jadi bertanya-tanya, seperti apa rasanya berciuman?

Berciuman dengan Jo Eun Hee, tentu saja.

 

**

Autumn 2010

Seoul

Ini sudah tahun ketigaku menjadi pengagum Jo Eun Hee dari jauh. Cinta pertamaku. Dan aku disini, di salah satu taman di Seoul masih asyik mahsyuk memandangi gadis itu. Lagi.

Langit sudah begitu gelap, sebentar lagi pasti turun hujan. Tapi, Jo Eun Hee masih duduk seorang diri di taman, dengan ear phone di kedua telinganya. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang sedang ia dengarkan saat ini. Mungkin lagu milik Muse atau Maroon Five, karena hanya dua band itu favoritnya. Lalu, aku melihatnya lebih lekat. Dilihat dari ekspresi wajahnya, dia pasti tengah mendengarkan salah satu lagu dari Muse. Dahinya berkerut saat mendengar lagu dari Muse, dan jarinya akan mengetuk-ngetuk pahanya saat ia mendengar lagu dari Maroon Five. Aku tahu. Sampai sedetail itu.

Hujan tiba-tiba saja mengguyur dengan deras, aku tanpa pikir panjang berlari ke arahnya dan membuka payung transparan di atas kepalanya. Ia mendongak, menatap wajahku. Untuk pertama kalinya mata kami bertatapan. Kakiku seperti kehilangan tulang-tulangnya hingga aku harus mencengkram erat bangku panjang yang ia duduki. Dan ia berpengaruh sebesar itu padaku, sayangnya kehadirannya sama sekali tidak membantu. Membuatku makin parah saja dalam menggilainya.

“Terima kasih.” Suara lembutnya berderai memenuhi indera pendengaranku. Jika ada semacam suara dari surga maka suara itu tentu berasal dari Jo Eun Hee. Mengingat surga selalu dipenuhi keindahan.

Aku memberanikan diri menyentuh tangannya. Bukan, bukan sentuhan kurang ajar, hanya sebatas dia memegang payung yang tengah aku pegang. Dan aku merasakan seperti aliran listrik dan ribuan kupu-kupu berterbangan di perutku hanya karena sentuhan sederhana kami. Dia mematikan musik di iPod-nya dan melepas earphone-nya, menatapku heran. Tapi, belum sempat ia berbicara lagi aku sudah berlari menembus hujan, berharap aku punya kemampuan teleport.

Aku untuk pertama kalinya mendapati wajahku memerah hanya karena di tatap dan bersentuhan dengan seorang gadis. Aku pasti sudah gila.

Musim gugur 2010, aku akan mengingatnya sepanjang hidupku.

 

**

Summer 2011

Seoul

“Tidak mau appa.” Teriakku, dan seketika wajah kedua orang tuaku menegang.

“Kau harus segera melanjutkan sekolahmu di New York. Suka atau tidak.” Appa berkata seraya memijit pelipisnya. Dan oh…ide di New York tak pernah terlintas dipikiranku. Aku menolaknya mentah-mentah. Alasannya sederhana, aku tidak mau berjauhan dari Jo Eun Hee. Membayangkan kami ah maksudku aku tidak menatap wajahnya dalam jangka waktu lama tentu akan sangat mengerikan.

“Di Korea masih banyak sekolah appa. Aku. Tidak. Mau.” Ucapku lagi dengan penuh penekanan. Sebenarnya aku sedang memohon.

“Tapi kau harus tetap pergi kesana, nak. Kau tidak punya alasan untuk menolaknya.” Ibuku berujar lembut, membuatku sungkan untuk membantah.

“Aku punya.” Jawabku pada akhirnya.

“Apapun alasanmu. Itu tidak penting. Kau akan tetap melanjutkan sekolahmu di New York.” Ayahku sekali lagi menegaskan, sedangkan aku hanya bisa berlari keluar seraya membanting pintu. Pikiranku terasa sangat kalut saat itu, aku merasa akulah orang yang paling menderita di dunia. Agak berlebihan tentu saja. Hingga yang ada dipikiranku sekarang adalah pergi ke rumah Na Ra noona, mencurahkan isi hatiku padanya. Atau jika memungkinkan meminta bantuan noona untuk bernegosiasi dengan kedua orangtuaku. Tapi, begitu aku sampai disana aku justru kembali terdiam, masih dengan kedua tangan memegang kemudi.

Aku melihatnya, melihat Na Ra noona dengan Kyuhyun Hyung tengah berpelukan. Jika melihat kemesraan mereka itu adalah hal biasa tapi hal yang aku lihat saat ini jelaslah berbeda. Kyuhyun Hyung mengatakan sesuatu yang bahkan tidak pernah aku bayangkan dalam imajinasi terliarku sekalipun.

“Ra-ya…kita putus saja. Aku tidak bisa memberimu banyak waktu untuk kita habiskan bersama. Jadi, kita putus saja. Aku mencintaimu.” Kata-kata terakhir Kyuhyun Hyung membuatku bingung. Dia mencintai Na Ra noona, tapi kenapa ia menginginkan hubungan mereka berakhir.

Apa cinta serumit ini?

Noona tidak menangis, normalnya gadis manapun akan menangis setelah putus dari kekasihnya, tapi noona? Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengiyakan. Dan sampai bertahun-tahun ke depan, aku tidak yakin aku akan memahami kenapa noona tidak menahan Kyuhyun Hyung pergi darinya.

Aku segera menginjak pedal gas mobilku lagi, menuju ke tempat lain. Melihat semua kejadian barusan membuatku merasa seperti penguping yang mengerikan. Dan tidak butuh waktu lama, aku sudah berada di depan rumah dengan cat putih bersih, dengan air mancur dan taman bunga yang nampak indah, menandakan pemiliknya merawatnya dengan baik. Aku mengenggam kemudiku kencang sampai buku-buku jariku memutih. Satu keinginanku adalah melihat wajahnya, karena berpamitan padanya ku rasa terlalu rumit. Terlalu berlebihan. Mengingat aku yang tidak sekalipun menyapanya apalagi berkenalan dengannya.

Lagi-lagi jantungku dibuat berfungsi dengan tidak semestinya, terutama saat aku melihat sosoknya lagi. Ia muncul dari balik pintu rumahnya. Kali ini ia memakai sweater coklat yang nampak kebesaran, celana jeans belel, sepatu kets putih, dan rambutnya dibiarkan tergerai bebas. Rasanya, aku ingin menenggelamkan wajahku di surai panjangnya, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam disana. Tapi, fantasi-fantasiku terhenti begitu saja saat di belakang gadis itu, di belakang gadis yang aku klaim sebagai milikku muncul sosok pria lain. Mereka terlihat dekat, terlebih saat tangan pria itu terulur untuk membelai rambut Eun Hee.

“Sial!” Makiku tanpa terkendali. Jika membunuh orang adalah hal legal maka aku dengan kedua tanganku tentu akan mencekik leher pria itu hingga mati. Tapi sayangnya malaikat dalam diriku membisikkan sesuatu yang mengatakan aku tidak seharusnya melakukan hal itu. Efeknya jelas, Eun Hee akan membenciku dan aku akan semakin sulit mendapatkannya. Jadi, aku hanya punya satu pilihan, pergi ke New York, segera kembali dan menikahinya nanti. Dan aku akan memastikan tidak ada satu orangpun yang bisa menyentuhnya. Menyentuh milikku.

 

**

Seoul, 2015

Aku sudah banyak berubah sekarang. Setelah tahun-tahun yang aku lewati di New York menempaku untuk menjadi sosok yang berbeda. Walaupun tentu saja beberapa hal tidak berubah sebanyak apapun waktu telah berlalu. Termasuk tentang obsesiku pada Jo Eun Hee yang sama sekali tidak memudar.  Apakah dia cinta sejatiku? Aku juga tidak tahu seperti apa cinta sejati. Tapi, jika definisi kalian tentang cinta sejati adalah dimana aku diam-diam mencintainya selama delapan tahun belakangan tanpa memandang ke arah gadis lain, maka jawabannya adalah ya. Sekali lagi, aku tidak tahu. Tidak yakin.

Delapan tahun bukan waktu yang singkat, terutama jika itu sudah menyangkut tentang betapa cepatnya kehidupan berubah. Mungkin tidak banyak dalam hidupku, kecuali fakta bahwa aku adalah salah satu pengusaha muda paling sukses seantero Korea. Jika aku boleh menyombongkannya maka aku rasa itu hal pantas, mengingat aku harus menempa diriku di New York agar bisa kembali ke Korea menjadi sosok yang lebih hebat. Sosok yang membuat Jo Eun Hee tidak akan pernah bisa lepas dariku. Lagi-lagi gadis itu, dia pusat duniaku.

Dan ngomong-ngomong soal perubahan, Na Ra noona juga berubah. Tidak banyak. Dia masih sama mengintimidasinya, sejujurnya sekarang jauh lebih mengerikan, masih seorang penggila kontrol, dingin dan aku harus mengatakan bahwa dia sekarang punya banyak cinta. Dan ya..aku harus menambahkan bahwa dia sekarang sudah menikah. Na Ra noona menikah dengan Kris Wu yang tidak sengaja ditemuinya di Paris pada hari hujan. Mendengar kisah mereka, rasanya aku ingin muntah. Kau tahu? Aku tidak pernah paham dengan hal-hal romantis, dan kisah mereka kelewat romantis sampai membuatku muak. Iri, mungkin?

 

Saat rindu itu tidak tertahankan, tentu saja ini kembali menyangkut Jo Eun Hee..aku awalnya hanya berniat untuk melihat kegiatannya di kampus. Aku dengar dia masih berstatus sebagai mahasiswi di Kyunghee University. Hal itu membuatku penasaran. Seperti apa dia sekarang?

Dan aku disini, di parkiran depan fakultasnya, menunggunya. Aku sudah tahu semua jadwal kuliahnya. Mengandalkan kuasaku, dan juga keberuntunganku aku tentu berharap aku bisa melihatnya hari ini. Hanya melihatnya saja, dan itu cukup.

Otakku rasanya mendadak macet, dan seluruh sistem di tubuhku berhenti seketika saat akhirnya aku melihatnya lagi. Ia berjalan seorang diri, masih dengan gaya berpakaian yang sederhana. Jeans belel, t-shirt, dan tas punggung warna cokelat. Aku yakin Eun Hee bukan orang yang tergila-gila pada style jika dilihat dari penampilannya.

Seketika hasrat primitif itu menguasaiku. Aku adalah pria dewasa yang sudah mencintainya selama delapan tahun, dan setelah bertahun-tahun hidup di New York dengan segala kehidupan disana tentu aku tak menampik keinginan itu. Seks. Ya..Seks dengan Jo Eun Hee terdengar maha menyenangkan. Tapi, tidak…aku tidak akan melakukannya sekarang. Tidak sampai dia sah menjadi milikku, walaupun tentu saja aku bisa mendapatkannya saat ini juga. Aku hanya tidak mau dia melihatku sebagai sosok monster yang mengerikan. Dan hari itu, aku berkali-kali membenturkan kepalaku ke kemudi, berharap hasrat primitifku lenyap dan sayangnya itu kelewat tidak mungkin. Jo Eun Hee semakin mempengaruhiku.

 

**

Kim Industries, Seoul

Aku memandang calon ayah mertuaku seperti seorang pesakitan yang siap menerima vonis. Dan aku duduk dengan angkuh di depannya, tersenyum miring nampak seperti tanpa belas kasih. Dia boleh saja membenciku nanti. Tapi sejujurnya aku hanya ingin membantu perusahaanya. Mr Jo tak pernah tahu jika banyak orang-orangnya yang mulai berkhianat, membocorkan rahasia perusahaan kepada perusahaan lain demi uang yang lebih banyak. Mr Jo kelewat baik hingga kebaikannya disalah artikan. Tapi aku, Kim Jongin yang mencintai puterinya tentu tidak bisa begitu saja membiarkan semuanya kacau. Aku tahu bahwa Jo Enterprise akan segera bangkrut jika saja aku tidak segera menyuntikkan dana. Dan aku melakukannya, menyelamatkan perusahaan calon ayah mertuaku asal beliau bersedia menikahkan puterinya denganku.

Aku pasti terdengar jahat dan tidak berperasaan dalam waktu bersamaan, tapi aku hanya ingin dia memahamiku, walaupun sedikit. Uang bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Eun Hee. Aku sudah kelewat bersabar selama delapan tahun ini, aku hanya ingin egois. Egois dengan menjadikan Eun Hee milikku. Mr Jo menyetujuinya dengan berat hati tapi Jo Eun Hee, dia gadis polos yang keras kepala.

Hari itu, dia mendatangiku. Dengan kemeja kebesaran dan mini skirt yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Tentu saja aku tahu apa tujuannya datang kepadaku. Memakiku.

Ketika dia pada akhirnya masuk ke ruanganku, kepalaku berdenyut nyeri saat aroma black orchid itu semakin nyata. Bukan dalam arti buruk tentu saja, aroma Eun Hee semakin membuatku tidak waras dan seketika itu juga aku menciumnya. Aku tidak tahu bagaimana cara berciuman dengan baik. Tapi, memori saat aku melihat Kyuhyun Hyung dan Na Ra noona berciuman berputar cepat diotakku, saat itu juga aku melakukannya. Eun Hee sempat terkejut, dia tidak tahu betapa aku juga sama terkejutnya. Aku hanya ingin kami menikmati ciuman ini. Urusan dia ingin memaki atau menamparku biar aku mengurusnya nanti tapi sekarang aku hanya ingin menyecap bibir manisnya, menikmati rasanya tanpa jeda. Tanganku bergerak masuk ke dalam mini skirt-nya. Ya Tuhan..kenapa Eun Hee bisa mempengaruhiku sebesar ini. Dengan cepat aku menariknya lagi, aku tidak mau kehilangan kendali. Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya kenapa aku bisa seperti ini terhadap Eun Hee?

 

**

Wedding Day

Dia begitu cantik dalam balutan gaun pengantin yang aku pilihkan untuknya. Dengan taburan banyak kristal swarowski di gaun itu dia nampak seperti dewi yang baru turun dari surga. Aku kembali egois hari ini dengan memaksanya menikahiku. Aku hanya sedang mencegah diriku sendiri melakukan tindakan-tindakan bodoh yang berpotensi melukainya.

Eun Hee mengigit bibir bawahnya berkali-kali, nampak limbung saat berjalan. Tidak tahukah ia jika rasanya jantungku juga akan melompat keluar saking gugupnya?

Aku mengenggam tangannya yang tiba-tiba dingin, lalu mengucapkan sumpah itu. Sumpah yang akan mengikat kami sehidup semati.

Aku bisa melihat kekecewaan di wajahnya saat melihat hanya beberapa orang yang datang ke pernikahan kami. Apakah dia mengharapkan perayaan yang besar? Dengan pesta mewah dan banyak orang yang datang? Aku hanya ingin membuatnya nyaman, jadi aku hanya mengundang beberapa saja. Tapi, sepertinya aku justru mengecewakannya lagi.

Aku sama tegangnya dengan pasangan manapun yang akan menghadapi malam pertama. Maka, setelah pulang dari gereja aku segera pergi ke kantor, menenggelamkan diri dalam setumpuk pekerjaanku, padahal itu dalihku saja. Hanya agar aku bisa mengurangi sedikit rasa tegangku.

Kim Eun Hee…rasanya begitu luar biasa saat aku mengucapkan nama itu, menyematkan margaku di namamu. Kau berpengaruh begitu besar dalam hidupku, dan kau tak pernah tahu.

 

Jongin menenggelamkan tubuhnya dalam dinginnya air kolam di lantai dua mansionnya saat kenangan-kenangan terhadap Eun Hee kembali muncul dan memenuhi pikirannya. Dia ingat betul setiap detail pertemuannya dengan gadis itu. Detail-detail yang dia tuliskan dalam sebuah notebook berwarna merah yang tersimpan rapi di laci di ruang kerjanya. Tempat paling penting dimana dia biasa menyimpan segala sesuatu yang begitu berarti. Dan kenangan-kenangan bersama Eun Hee tentu termasuk di dalamnya.

Pria itu menatap bulan yang saat itu sedang purnama di atasnya. Marseille memang selalu menyenangkan. Dengan cuaca hangat sepanjang tahun, memungkinkannya untuk bisa berkunjung kemari kapan saja dia mau.

“Jongin….” Suara Eun Hee yang sehalus beludru membuat pemuda itu berbalik untuk menatap istrinya itu. Gadis yang memenuhi pikirannya. Eun Hee menggigit bibir bawahnya, tidak tahu dengan apa yang harus dikatakannya pada pria itu. Dan sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa memilih datang kemari dibandingkan meringkuk di kamarnya dan menghindar saja dari Jongin yang membingungkan.

Mungkin  dia sudah ketergantungan pada kehadiran pria itu. Mungkin memang sudah delapan tahun Jongin mengenalnya dan dia tidak. Mungkin dia hanya ingin terus saja berdekatan dengan pria itu. Mungkin memang Jongin mempengaruhinya sebesar ini.

Jongin memiringkan kepalanya, menatap Eun Hee lebih lekat. Tapi, detik berikutnya Jongin membelalakkan matanya. Terkejut dengan apa yang gadis itu lakukan.

TBC

Note :

Marseille                                 : salah satu kota terbesar di Prancis yang mendapat julukan kota pelabuhan. Terkenal dengan pantai-pantainya yang indah.

La Vieux Port                        : Pelabuhan terkenal di Marseille

Bouillabaisse                          : Makanan khas Marseille berupa sup ikan.

La Château Patrice 1927      : Nama wine

Untuk bahasa Inggrisnya maaf saya tidak bisa menerjemahkannya untuk kalian. Bukan karena saya sok pintar atau sebagainya tapi sekali lagi waktu saua begitu terbatas. Urusan akademik saya sedang sangat mendesak. Saya bahkan belum sempat membaca tumpukan buku-buku yang baru saya beli.

Anggap saja kalian juga sekalian belajar bahasa Inggris. Dengan kalian mencari tahu artinya sendiri akan lebih mengena di memori daripada saya mentransletkannya langsung pada kalian.

Saya juga merasa riskan dengan ff yang saya tulis ini. Kenapa? Karena tema pria yang tergila-gila pada seorang gadis sangatlah mainstream. Mungkin beberapa adegan ada yang mengingatkan kalian dengan ff lain tapi sekali lagi silahkan menjadi seseorang yang open minded. Setiap author punya pengemasan cerita yang berbeda. Dan perlu kalian tahu bahwa di zaman seperti sekarang ini sangatlah sulit mencari tema yang benar-benar baru dan belum pernah di bahas sebelumnya.

Terima kasih untuk perhatiannya. Untuk pertanyaan silahkan email ke belleciousm@gmail.com atau mention ke @RegginaAprilia

Like fp http://www.facebook.com/Bellecious0193

 

Advertisements