kai-1_ copy

Author             : Bellecious0193

Poster              : Lily21Lee

Genre              : Romance, Married Life, Family

Length             : Chaptered

Rate                 : PG 17

Casts               :

Kim Jongin

Jo Eun Hee

Wu Yi Fan aka Kris Wu

Lee Na Ra

Cho Kyuhyun

Etc

Untuk kalian yang bersama mereka sampai saat akhir.

Ini bukan sebuah akhir, sejujurnya…karena cinta sejati sendiri seharusnya tidak memiliki akhir. Maka, kalian hanya perlu menikmatinya. Bersama Kim Jongin dan Eun Hee yang begitu kalian cintai. Na Ra, Kris dan Kyuhyun yang rumit, juga Sehun yang selalu mempesona.

Terima kasih..untuk penantian kalian selama ini. Aku mencintai kalian, sebanyak setiap abjad yang kalian tuliskan di kolom komentar.

 

TOLONG PERHATIKAN NOTE DI AKHIR CERITA ^^

Happy reading…

 

Jongin membuka mata perlahan-lahan, dan apa yang menyambutnya saat itu adalah sinar matahari yang menusuk-nusuk retinanya. Dia bahkan kembali menutup mata, merasa sakit dengan cahaya pagi yang menyengat. Alasan kenapa dia selalu bangun sebelum matahari terbit karena dia tidak pernah suka dengan cahaya terang yang menganggunya. Membuatnya muak untuk beberapa hal.

Pria itu merasa aneh dengan apa yang ada pagi itu, sejenak merasa begitu disorientasi bahkan dengan dirinya sendiri. Tidak ada bau anyir darah, debu tebal ataupun bau tumbuhan hutan. Dia mencium aroma citrus segar kamarnya, lalu disusul aroma black orchid yang sudah amat familiar di indra penciumannya. Dia mengernyitkan dahi, selama beberapa saat kepalanya berputar, seperti langit-langit putih di atasnya nyaris runtuh dan segera menghantam dirinya. Tapi dia dengan cepat kembali pada kesadaran dirinya saat tangan mungil nan hangat mengenggam tangannya. Erat dan menenangkan seperti biasanya. Berikutnya sensasi seperti sengatan listrik dalam volt kecil yang selalu dia sukai. Ada wajah Jo Eun Hee di depannya, dengan kepanikan dan entah bagaimana masih saja terlihat cantik walaupun ada kantung mata hitam di bawah kedua mata gadis itu. Deskripsi yang terdengar konyol untuk disematkan pada gadis itu, mengingat sekarang kepalanya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Tapi jika sudah menyangkut Jo Eun Hee, Kim Jongin memang selalu tidak waras, selalu saja dia tidak akan lelah untuk memuji betapa mempesonanya wajah itu.

‘’Jong…gwenchana ? ‘’ tanya Eun Hee panik, kali ini menggoyangkan bahu pria itu. Jongin tidak menjawab dan justru memegangi kepalanya yang nyeri. Eun Hee menghambur ke pelukan Jongin, sebelum menangis dengan pilu disana. ‘’Aku sangat mengkhawatirkanmu, kau tiba-tiba saja pingsan. Kim Jongin..aku berpikir bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku berpikir bahwa kau tidak akan bangun lagi.” Ujar gadis itu dengan tergagap-gagap karena tangisnya sendiri. Jongin terdiam di tempatnya, selama beberapa saat merutuki dirinya sendiri karena sudah membuat Eun Hee menangis. Kebiasaan barunya sejak menikah dengan gadis itu tak lain menyalahkan diri. Selalu saja memaki diri sendiri saat dia merasa bahwa dia tak cukup baik dalam membahagiakan Eun Hee.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Jongin berujar dengan suara seraknya, sedang tangannya terulur mengusap punggung Eun Hee, mencoba menenangkan. Sedang dia sendiri sibuk menenangkan detak jantungnya yang berdentum tidak karuan karena berdekatan dengan istrinya. Selalu saja seperti itu. Selalu saja dia tidak pernah terbiasa sekalipun dengan sentuhan-sentuhan ringan seorang Jo Eun Hee.

“Kemarin saat kita kencan aku pingsan karena kelelahan atau mungkin juga efek bebauan jalanan yang tidak bersahabat dengan hidungku. Kemudian seseorang datang dan menemukan kau juga pingsan. Pada intinya kita berdua pingsan di pinggir jalan. Aku-“

“Kau tidak terluka?” Jongin bangkit dari posisinya, kali ini memeriksa setiap bagian tubuh Eun Hee dengan teliti. Dia nyaris berteriak gembira mendapati masih ada sesuatu yang menonjol di perut gadis itu. “Dan dia…dia baik-baik saja syukurlah. “ Ujarnya kemudian, masih saja lidahnya begitu kelu untuk sekadar menyebut kata “bayi“.

            “Tentu saja anak kita baik-baik saja Jong. Dia bahkan terus bergerak sepanjang malam karena mengkhawatirkanmu. Tapi ngomong-ngomong, apa kau bermimpi buruk? Kau mengigau sepanjang malam dan….” Eun Hee menghentikan kalimatnya, menimbang-nimbang kalimat yang tepat untuk diucapkan. Dia tidak mau terdengar memalukan di depan Jongin untuk saat ini. Tidak mau terdengar begitu percaya diri dengan apa yang ingin dikatakannya. Tapi toh dia sudah lelah menahan gengsi. Tidak tahan untuk berpura-pura tidak senang dengan limpahan cinta suaminya.

“Dan aku apa Kim Eun Hee? Apa aku melakukan sesuatu yang buruk padamu saat tidur? Apa aku menyakitimu? Say it, now!” Jongin kembali pada nada otoriternya, sedangkan Jo Eun Hee mengusap bagian belakang kepalanya, nampak kikuk. “Say it Kim Eun Hee!” Ulang pria itu lagi, menahan diri untuk tidak berteriak.

“Kau menyebutkan namaku berkali-kali” Ujar Eun Hee seraya mengigit bibirnya, khawatir dengan reaksi Jongin. “Dan mengatakan soal mati..mati dan mati. Apa yang kau impikan Jong? Kau juga berkeringat dingin sepanjang malam. Apa aku perlu memanggil Kris­-ssi untuk datang kemari lagi?”

Jongin terhenyak, selama beberapa saat rasa pusing itu kembali menyergapnya. Dia bermimpi sangat buruk soal penculikan dan penyiksaan yang dialami Eun Hee karena ulahnya. Dia tidak akan mau mengingat bagian dimana dia dihajar tanpa ampun oleh banyak orang. Yang satu itu tidak penting. Karena isi kepalanya berpusat pada Jo Eun Hee saja.

“Tidak ada penculikan? Darah? Bangku yang dihantamkan ke tubuh? Suara pistol dan lainnya ? “ Tanyanya kemudian saat dirasa dia butuh penjelasan yang logis. Mimpi semalam begitu nyata, begitu buruk dan begitu menyakitkan. Dia bahkan terlalu takut untuk mengingatnya kembali. Terlalu khawatir akan kemungkinan bahwa mimpi tersebut akan menjadi nyata.

“Kau pasti bermimpi buruk sekali semalam. Pantas saja kau sangat gelisah. “

Mwo? “ Jongin mengangakan mulutnya, sebelum kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang king size yang dia tiduri. Saat ini dia sepenuhnya mengerti bahwa adegan penculikan Eun Hee, pembunuhan bayinya, juga darah di banyak tempat tak lebih dari sekadar mimpi buruk semata. Mimpi buruk yang terasa begitu nyata sekaligus begitu menyakitkan. Mimpi buruk karena kekhawatirannya yang berlebihan. Dia bisa benar-benar merasa lega sekarang. Bahwa Eun Hee baik-baik saja. Bahwa pusat dunianya masih ada di dekatnya dan dia akan memastikan Eun Hee akan selalu di sisinya.

“Sebenarnya apa yang kau mimpikan Jong? Apa sangat mengerikan?” Ucapan Eun Hee membuyarkan lamunan Jongin. Atensi pria itu terdistraksi sepenuhnya pada Eun Hee. Kali ini dia menatap Eun Hee lekat, nyaris tidak berkedip.

“Kim Eun Hee..berjanjilah..bahwa tidak peduli apapun yang terjadi kau akan tetap berada di sisiku. Tidak peduli kau muak atau pada kemungkinan nantinya kau akan mati bosan padaku, kau tidak akan meninggalkanku. Till death do us apart. Kau mengerti? “ Alih-alih menjawab pertanyaan Eun Hee, Jongin justru mengatakan kalimat permohonannya. Kali ini pria itu mengatakan kalimatnya dengan nada permohonan yang sungguh-sungguh, bukan nada otoriter seperti ciri khasnya. “ Kim Eun Hee, berjanjilah! Tidak..tidak..bukan berjanji, tapi bersumpahlah.” Jongin setengah memaksa, begitu tidak sabar dengan Eun Hee yang tak kunjung menjawab.

Eun Hee mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat, masih berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Jongin. Dia menatap kedua iris hitam yang dulu membuatnya takut. Anehnya sekarang dia justru begitu menyukai tatapan tajam itu. Nyaris tergila-gila.

“Aku sudah pernah mengucapkan janji semacam itu Jong. Di altar, di pantai dan…aku tidak akan mengingkarinya. Kau mempercayaiku kan?”

“Apa kau sedang mendebatku Mrs Kim?”

“Tidak. Aku tidak sedang mendebatmu. Hanya saja, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau sendiri tidak suka membuat banyak janji? Mereka yang berjanji adalah mereka yang paling berpotensi untuk mengingkari apa yang telah mereka janjikan. Aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu. Fakta bahwa sekarang aku masih disini bersamamu, tidakkah hal itu cukup untuk membuktikannya? Dan aku tidak akan kemana-mana? Aku tidak akan bisa kemana-mana. Aku akan selamanya terikat pada Kim Jongin, selamanya menjadi Mrs Kim. Yang seperti itu apa cukup untuk menggantikan janji-janji yang tak tahu apa akan aku tepati, Kim Jongin­-ssi?” Eun Hee mengelus pelan pipi Jongin, meninggalkan sensasi panas disana. “Lagi pula, prospek untuk hidup tanpamu rasanya sangat buruk. Aku tidak mau menjalaninya.” Dia menggantungkan kalimatnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin. Deru nafas mereka saling beradu. Bibir mereka begitu dekat. Nyaris bersentuhan. Belum. Lalu sebuah kalimat yang rasanya nyaris mustahil keluar dari bibir Jo Eun Hee kemudian terucap.

Saranghae, Kim Jongin.” Ucap gadis itu sebelum menyentuhkan bibirnya di permukaan bibir Jongin.

Kim Jongin bahkan masih begitu terkejut dengan ucapan Eun Hee, menyumpahi indra pendengarannya yang kemungkinan besar sudah rusak karena dia menganggap bahwa dia pasti sudah salah. Sebab dia baru saja mendengar pernyataan cinta Eun Hee. Tapi gerakan bibir Eun Hee di atas bibirnya menjawab semua keraguannya, mengikis kekhawatiran yang selama ini merongrongnya tanpa jeda.

Jongin membiarkan Eun Hee memimpin ciuman pagi itu. Membiarkan lidah hangat hangat miliknya dibelit dengan panas oleh Eun Hee. Mereka bahkan mengabaikan kenyataan bahwa kini mereka nyaris kehabisan napas. Paru-paru mereka meronta meminta oksigen. Mereka sekali lagi terlarut dalam ciuman panas penuh cinta. Bedanya, kali ini tidak ada sesuatu bernama gengsi yang menahan seorang Jo Eun Hee untuk lebih menunjukkan cinta pada suaminya.

Dan mereka terus saja berciuman, tanpa takut kehabisan waktu.

**

Kim Industries, Seoul

 

Kim Jongin seperti biasa tengah sibuk dengan berbagai dokumen di depannya. Menjadi pemilik dari perusahaan multinasional dengan banyak cabang di dunia tidak selamanya menyenangkan. Dia memang mempunyai kekayaan melimpah, yang satu itu tidak perlu diragukan. Hanya saja mengurus perusahaan membuat waktunya tersita, mengikis kebersamaanya dengan Eun Hee.

Jongin meletakkan pena yang tengah dia gunakan, tiba-tiba kembali teringat dengan ucapan Eun Hee tentang seseorang yang menolong dia dan Eun Hee. Kim Jongin dengan harga diri setinggi langit tentu tidak akan menyukai kenyataan bahwa dia berhutang budi dengan orang lain. Dia akan meminimalisir dan mungkin saja menghilangkan hal-hal yang berpotensi melukai harga dirinya. Dia lalu menekan tombol dua pada pesawat telfon di meja kerjanya.

“John, come to my room. Now.” Ucapnya dengan nada memerintah yang sudah begitu mendarah daging. Sesuatu yang pasti tidak akan bisa diubah oleh siapapun di muka bumi.

Tidak sampai lima menit sosok tampan John sudah ada di ruangan Jongin, berdiri dengan tegak seperti seorang tentara yang siap menerima perintah untuk maju ke medan perang.

Sir..what can I do for you?” tanya John sopan tanpa sedikitpun mengurangi ketegasannya.

Do you know who helped me and Eun Hee yesterday? Eun Hee told me that someone helped us when we both collapse on the street.”

John terdiam selama beberapa saat. Dia memang sudah begitu memahami kepribadian Jongin. Hanya saja adalah hal langka bagi Jongin untuk memperhatikan hal remeh semacam itu.

“John Caine!” Geram Jongin saat John tak juga menjawabnya.

Sorry Sir, the man that helped you and Mrs Kim named Goo Ki Joon.” Jongin menghempaskan tubuhnya ke kursi yang tengah di dudukinya. Nama yang entah kenapa tidak begitu asing. Nama yang menjadi tokoh sentral dalam mimpinya semalam. Nama yang menjadi antagonis terkeji semalam dan baru saja nama itu juga yang menjadi penyelamat hidupnya. Jadi, siapa yang tidak waras sekarang? Kim Jongin yang kian tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi atau memang dunia yang tengah mempermainkannya?

Ada berapa trilyun nama di dunia ini? Dan kenapa semua harus berujung pada satu nama, Goo Ki Joon.

“Find him.” Ujar Jongin pada akhirnya. John segera mengangguk dan meninggalkan ruang kerja atasannya. Dia tanpa banyak bertanya sudah jelas tahu bahwa ada sesuatu yang mendesak yang harus diselesaikan oleh Jongin. Dan tak ada seorangpun yang bisa membantah.

**

Jongin’ Mansion, Seoul

 

Keindahan taman di belakang mansion milik Kim Jongin sudah bukan rahasia lagi. Bahkan, sang nyonya rumah tak segan-segan menghabiskan banyak waktu di sana. Terkadang nyaris seharian. Minus saat Jongin menahannya di ranjang selama seharian penuh. Yang satu itu jelas dia tidak akan keberatan. Sebab, menghabiskan waktu dengan Jongin jelas lebih menggiurkan dibanding berdiam diri di taman paling indah di dunia sekalipun.

Jo Eun Hee tengah sibuk memandangi deretan bunga matahari di depannya. Dia tidak pernah begitu menaruh perhatian pada bunga matahari sebelumnya. Tapi sejak Jongin memberinya sebuket bunga matahari kemarin, mendadak dia menyukai bunga itu. Rasa sukanya bahkan melebihi bunga lily yang selama ini selalu menjadi favoritnya. Dalam sekejap saja kesukaanya pada mawar merah juga lenyap. Entah karena memang bunga matahari yang kelewat indah atau memang karena Kim Jongin-lah yang memberikannya? Keduanya sama saja, sebab jika sudah menyangkut Jongin maka di luar batas logika yang bisa dia terima semuanya akan begitu mudah dia sukai. Apa-apa saja yang diberikan pria itu padanya. Jo Eun Hee terdengar seperti maniak pada Kim Jongin saat ini. Dan dia tidak akan malu lagi untuk mengakuinya.

“Kau masih saja suka melamun Mrs Kim?” Yoo Mirae yang akhir-akhir ini jarang menemuinya tiba-tiba datang, seperti biasa dengan suara kekanakan yang melengking. Gadis itu mendudukkan diri di sebelah Eun Hee.

“Kau kemana saja huh? Aku kesepian tahu.” Eun Hee menggerutu, sedangkan Mirae mencebikkan bibirnya, menatap kesal pada istri Jongin itu.

“Saat aku disini kau dan Jongin mengabaikanku, mengunci diri seharian di dalam kamar. Telingaku bahkan nyaris tuli mendengar suara-suara itu.” Eun Hee menundukkan wajahnya begitu mendengar ucapan Mirae. Jelas dia tahu betul bahwa suara-suara yang dimaksud adalah suara desahan percintaannya dengan Jongin. “Memangnya sehebat apa sih suamimu itu? Apa dia akan memintamu berkali-kali? Kim Jongin itu…aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa tahan bercinta nyaris setiap hari denganmu tanpa merasa bosan?”

“Yoo Mirae­­-ssi ” Desis Eun Hee kesal, topik mengenai ranjang memang terkadang begitu sensitif. “ Kau harus segera menikah dengan kekasihm, sehingga kau tidak akan terus membayangkan bagaimana hebatnya Kim Jongin di atas ranjang.”

Perkataan Eun Hee sukses membuat Mirae menganga. Kemana gadis polos yang hanya akan diam saat dia menggodanya habis-habisan? Gadis polos itu pasti sudah hilang karena pengaruh Kim Jongin yang begitu kuat.

“Yak! Yak! Siapa yang mengajarimu untuk mengatakan hal seperti itu? Biasanya kau akan diam saja saat aku menggodamu kan? Dan hei…kau benar-benar Kim Eun Hee, kan? Kau bukan alien yang menculik Eun Hee asli lalu berpura-pura menjadi nyonya rumah disini. Apa kau alien yang kebetulan jatuh cinta pada Jongin?” cecar Mirae tanpa putus. Eun Hee langsung meledakkan tawanya begitu mendengar ucapan kekanakkan Mirae.. Gadis itu berusia dua puluh lima, tapi terkadang apa yang dikatakan atau dilakukan Mirae benar-benar tidak mencerminkan usianya.

“Aku tidak tahu jika istriku sendiri suka bergosip tentangku di belakangku.” Suara bass Jongin menginterupsi pembicaraan konyol antara Mirae dan Eun Hee. Keduanya saling berpandangan dan sepakat menutup mulut, kelewat malu sudah tertangkap basah sedang bergosip ria. “Jadi, apa sekarang istriku tidak akan malu untuk mengakui bahwa dia tergila-gila padaku? Suaminya sendiri.” Jongin menampilkan senyum separuhnya yang menawan. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya sudah dia lepaskan, sedangkan dia membiarkan dua kancing teratas kemeja putih yang dia kenakan terbuka. Jongin berjalan mendekat ke arah keduanya seraya menggulung lengan kemejanya hingga siku.

Yoo Mirae mengumpat dalam hati, sebisa mungkin tidak memandang ke arah Jongin. Sedang Eun Hee justru terpaku pada pemandangan maha indah di depannya, sebisa mungkin tidak meneteskan liur atau terjerembab memalukan di tanah. Terkadang Kim Jongin memang luar biasa sialan. Dia bisa sangat mempesona, bahkan dengan gerakan sederhana seperti melipat lengannya hingga siku.

“Eun Hee-ya aku harus segera pergi dari sini. Suamimu itu adalah sialan yang sangat mempesona. Aku harus segera menemui Donghae agar efek pesona Jongin bisa segera sirna.” Mirae berbisik tepat di telinga Eun Hee dan segera berlari dari sana. Dia tidak bercanda soal pesona Jongin, maksudnya gadis normal manapun tentu akan jatuh dalam pesona pria itu. Tidak peduli kenyataan bahwa Mirae hampir setiap hari bertatap muka dengan pemilik Kim Industries tersebut. Tetap saja hal itu sama sekali tidak membantu. Dan dia benar-benar harus menemui Lee Donghae sebelum kadar kewarasannya diambil begitu saja oleh Jongin. Yang satu itu terdengar amat sangat mengerikan.

“Berhenti di sana Jong.” Ujar Eun Hee setengah berteriak saat jaraknya dan Jongin semakin terkikis. Jongin mengernyitkan dahinya, menatap Eun Hee dengan penuh pertanyaan. Tapi toh pria itu tidak terus melangkah dan memilih untuk menuruti perkataan istrinya. “Kau tetap disana dan jangan mendekat.”

Why?”

Selama ini kau lah yang selalu mendatangiku. Kau adalah yang pertama datang setiap kali aku merindukanmu. Kau yang pertama kali mengulurkan tangan setiap aku membutuhkan bantuan. Jadi-“

“Dan aku adalah yang selalu menyakitimu kan?” Jongin memotong perkataan Eun Hee seraya mencebikkan bibirnya. Dalam beberapa alasan dia merasa tidak pantas untuk apa yang istrinya katakan tadi.

“Sekali ini saja, bisa tidak kau berhenti berbicara dengan nada bossy dan memotong perkataanku seenak perutmu ? “ Sergah Eun Hee setengah kesal. Bukannya tersinggung, Jongin justru menyeringai yang lagi-lagi menambah deretan pesona pria tersebut.

“Katakan apa maumu?” Tanya Jongin kemudian, menahan tawa karena istrinya masih saja ternganga dengan apa yang ada dalam dirinya. Mungkin dia patut berbangga hati sekarang?

Eun Hee bangkit dari posisinya, berdiri menghadap Jongin yang berjarak tak sampai tiga meter dari posisinya.

“Mulai sekarang aku lah yang akan mendatangimu.” Eun Hee melangkahkan sebelah kakinya, sebelum disusul dengan kakinya yang lain. “Aku yang akan melangkah lebih dulu saat aku merindukanmu.” Dia melangkahkan kakinya lagi, kali ini lebih lebar hingga jaraknya dan Jongin kian terkikis. “Aku yang akan mengulurkan tangan setiap kali kau membutuhkan bantuan.”

Kali ini Eun Hee mengambil beberapa langkah sekaligus, jaraknya dan Jongin tak lebih dari satu langkah. Tapi bukannya menghambur ke pelukan posesif suaminya, dia justru berdiam di tempatnya. Dan saat itu juga dia langsung merasa menyesal karena harus menatap Jongin dalam jarak sedekat ini.

Wanita manapun di muka bumi mungkin akan sepakat jika Jongin tampan. Ralat, amat sangat tampan. Tapi bukan hanya karena ketampanan pria itu yang memang nyaris membutakan mata yang membuatnya terus bertahan di sisi Jongin. Ada hal lain yang menahannya. Hal lain yang tidak bisa di deskripsikan dalam milyaran kata di muka bumi. Dia hanya ingin…ingin untuk terus berada di sisi Jongin selama dan semampu yang dia bisa.

“Keberatan?” ujarnya mengajukan pertanyaan. Jongin memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana seraya menatap lekat istrinya. Menilai.

“Apa kau sedang menawarkan sesuatu kepadaku? Sesuatu seperti….kebersamaan selamanya?”

“Bukan sebuah tawaran Kim Jongin, dalam sebuah pernikahan aku menyebutnya….kompromi. Kita sepakat untuk hidup bersama, mengulurkan tangan saat yang lain butuh bantuan, memberikan bahu saat salah satu di antara kita perlu sandaran atau dalam versi mudahnya…bahagia dan menderita bersama. Walaupun melihat keegoisanmu, kau tidak akan membiarkan hal-hal yang berkaitan dengan menderita mendekat pada keluarga kita.”

Agreed.” Jongin menjawab cepat, nyaris tanpa berpikir. Kompromi yang ditawarkan Eun Hee jelas begitu menggiurkan bagi hidupnya. “Sekarang apa aku boleh memelukmu? Aku sangat merindukanmu Mrs Kim.”

Eun Hee membuka kedua tangannya lebar-lebar dan melangkah maju memeluk pria itu. Jongin dengan cepat merengkuh tubuh mungil Eun Hee yang selalu pas dalam dekapannya. Bahwa dengan pelukan itu dia merasa lengkap. Bahwa dia akhirnya merasa benar-benar pulang.

I love you.” Ujar Jongin di telinga Eun Hee sebelum menenggelamkan kepalanya di surai panjang milik gadis itu, seolah mendapatkan oksigen dari sana.

I love you more.”

            “I love you most.”

            “Bahkan dalam hal pernyataan cinta kau tidak mau mengalah Jong? Mr Bossy.” Eun Hee terkekeh di antara pelukan mereka. Masih saja takjub dengan kepribadian Jongin.

“Seperti ada saja pria yang bisa mencintaimu melebihi apa yang aku lakukan padamu. Well mendekatipun tidak.”

“Bagaimana lagi? Kau bahkan tidak pernah membiarkanku dekat dengan pria manapun di muka bumi. Yang satu itu aku tidak bisa me-iya-kan mengingat pengalaman percintaanku hanya denganmu saja.” Jongin segera melepaskan pelukannya begitu mendengar perkataan Eun Hee. Seolah dia paham betul dan bisa membaca isi kepala istrinya dengan jelas. Paham akan ke arah mana pembicaraan mereka selanjutnya. “Kecuali jika kau memberiku izin untuk menikmati pengalaman percintaan lain.”

Tepat sasaran. Tebakan Jongin benar-benar tepat dan nyaris membuat jantungnya melompat keluar saking terkejutnya. Eun Hee mengusap pelan punggung Jongin, menenangkan entah detak jantungnya atau detak jantung Jongin, yang jelas keduanya sama-sama berdentum-dentum memukul rongga dada. Menimbulkan sensasi mendebarkan.

“Bercanda. Selera humormu payah sekali. Tahu?”

“Kau sedang bermain-main dengan suamimu sendiri, huh? Padahal beberapa menit yang lalu kau jelas sedang terlibat semacam pembicaraan seru tentangku dengan Yoo Mirae. “ Jongin menampilkan senyum separuhnya yang menawan. Jelas, dia sedang tidak ingin berbelas kasih pada istrinya. Buktinya dia terus saja mengumbar pesona. Tahu bahwa Eun Hee tidak akan imun pada pesonanya. “Dan jika aku tidak salah kau bahkan nyaris terjungkal karena kelewat terpesona padaku. Jadi, pengalaman percintaan apa yang kau inginkan sedang aku sudah memberi semua yang kau butuhkan, Mrs Kim ?“ Eun Hee mengangakan mulutnya. Seharusnya dia sudah memprediksi dari awal bahwa dia tidak bisa mendebat alih-alih mengalahkan Kim Jongin soal kata-kata. Pria itu bisa dengan mudah membuatnya terdiam dengan kata-kata sederhana yang seharusnya terdengar biasa-biasa saja.

Eun Hee menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jongin, menyembunyikan raut wajahnya yang sudah pasti merona karena dia sudah tertangkap basah mengagumi suaminya seperti tak ada hari esok. Sedang Kim Jongin yang pengertian kembali tersenyum senang. Dia bahkan nyaris lupa bahwa dulu dia hampir tidak pernah tersenyum. Hampir lupa bagaimana menjalani hidup dengan benar jika tidak ada Eun Hee bersamanya.

“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.” Ujar Jongin beberapa saat kemudian. Saat bersama Eun Hee dia selalu saja nyaris kehilangan kewarasannya. Sebab yang ada dalam isi kepalanya adalah bagaimana menghabiskan sebanyak mungkin waktu tanpa ada yang menganggu.

“Kemana Jong ? Apa kencan seperti kemarin lagi ? “ Sahut Eun Hee berbinar. Jongin segera menampilkan ekspresi kerasnya, masih begitu trauma dengan kejadian kemarin.

“Tidak. Tidak ada kencan ala rakyat jelata seperti kemarin ! Aku tidak mau lagi hidup dalam kekhawatiran Kim Eun Hee. “ Eun Hee sudah akan membuka mulut untuk mendebat Jongin, tapi pria itu buru-buru menambahkan kalimatnya. Tahu bahwa jika Eun Hee sudah merajuk dia tidak akan bisa menolak. Sedangkan di sisi lain dia begitu ketakutan jika saja mimpi buruknya menjadi nyata. Mimpi tentang sebuah kehilangan yang baginya lebih buruk dari mati. “Dan kau dilarang mendebat atau merajuk. Ini demi keselamatanmu….juga bayi kita. “

Eun Hee tak mampu lagi berkata-kata saat pada akhirnya Jongin mau menyebut kata “bayi“ yang selama ini dirasanya nyaris mustahil keluar dari bibir suaminya sendiri. Dia segera mengangguk, tidak terpikirkan sebuah rajukan apa lagi bantahan. Dia tidak akan meminta lebih, sebab Jongin selalu bisa memberinya kebahagiaan. Yang satu itu jelas merupakan keahlian pria berkulit tan tersebut.

“Kali ini aku tidak keberatan dengan sikapmu yang sangat bossy Jong. Terima kasih untuk menerimanya.” Gadis itu hanya bisa mengucapkan terima kasih tanpa tahu harus mengatakan hal lain apa lagi untuk menunjukkan kebahagiaanya. Dia hanya sadar satu hal..bahwa kata-kata semanis apapun tidak akan bisa mewakili betapa berterima kasihnya dia pada Jongin. Maka yang ada dalam pikirannya saat ini adalah menjanjikan kehadirannya untuk selalu ada di sisi pria itu.

Jongin mengacak pelan rambut Eun Hee, menahan diri untuk tidak melahap dengan rakus bibir istrinya. Dia harus melakukan hal lain yang lebih penting saat ini. Sedang urusan ciuman, dia bisa melakukannya nanti. Dia akan melakukannya berkali-kali dan dia memastikan Eun Hee tidak akan keberatan dengan ciuman panasnya nanti.

**

Adalah sebuah hal yang tidak wajar ketika sebuah mobil mewah sekelas Lamborghini Sesto Elemento berada di sebuah kawasan kumuh. Korea Selatan memang menjadi negara maju saat ini, tapi tetap saja kesenjangan sosial selalu ada dimanapun. Tak peduli walaupun negara tersebut adalah negara paling maju di dunia. Jo Eun Hee -gadis di dalam mobil tersebut- hanya bisa mengernyitkan dahinya mendapati tempat tujuan Jongin. Pria itu seperti biasa tidak akan mengatakan apapun soal tujuan mereka. Dia akan selalu membuat banyak kejutan. Kejutan yang sialnya membuat kesehatan jantung Eun Hee semakin parah saja.

“Kita akan segera sampai.” Ujar Jongin tiba-tiba. Kalimat tersebut sudah dikatakannya nyaris tujuh kali sepanjang perjalanan mereka. Eun Hee tidak mengeluh, hanya saja bukan sebuah hal biasa bagi seorang Kim Jongin untuk mau bersusah payah apa lagi menginjakkan kaki ke tempat yang tidak layak. Eun Hee hanya mengangguk sebagai tanggapan. Terlalu banyak pertanyaan yang ada di otaknya. Dan dia cukup tahu diri untuk tidak menganggu konsentrasi suaminya dalam menyetir.

Lima belas menit kemudian mobil Jongin berhenti di sebuah rumah sederhana. Rumah itu mempunyai halaman yang tidak terlalu luas, sehingga mobil Jongin tidak bisa diparkirkan di sana. Ada sebuah pagar kayu yang membatasi halaman rumah dengan jalanan sempit di depannya, juga sebuah taman bunga yang tidak terawat. Hal ini terlihat dari meranggasnya rumput liar, sehingga menutupi bunga-bunga yang ditanam.

Jongin turun dari mobilnya, berlari ke arah pintu penumpang dan membukakkan pintu untuk Eun Hee.

“Ada seseorang yang harus kita temui.” Ujar Jongin menjawab pertanyaan tak terkatakan Eun Hee. Dia menggenggam sebelah tangan istrinya, membimbingnya dengan hati-hati melewati beberapa tanaman kaktus yang tak tertata.

“Seseorang tersebut pasti sangat penting.” Tukas Eun Hee, sedikit melompat saat melewati sebuah pot hitam besar yang pecah.

“Mmmm..” Gumam Jongin, mengangkat sedikit tubuh Eun Hee agar terhindar dari kaktus-kaktus berduri yang dalam versinya sangat berbahaya. ” Sangat penting.” Tambahnya.

Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah dengan cat cokelat kusam. Pintu tersebut mempunyai cat yang sudah terkelupas, juga debu yang terlihat tebal. Jongin mengulurkan tangan, mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Tak lama seorang gadis muncul. Gadis tersebut berwajah pucat, dengan rambut hitam sepanjang bahu yang kusut. Pakaian yang dikenakan terlihat lusuh, dengan beberapa tambalan di bagian-bagiannya. Jongin berjengit ngeri, sedangkan Eun Hee memandang iba sebelum berjongkok dan mengusap pelan kedua lengan gadis kecil itu.

“Halo…siapa namamu?” Tanyanya lembut. Jongin mematung di tempatnya, masih ngeri dengan pemandangan yang tengah dia saksikan. Dia hanya tidak tahu bahwa masih saja ada kemiskinan di zaman modern seperti ini. Dia jelas tidak paham dengan hal tersebut, mengingat sedari kecil dia dibesarkan dengan berkecukupan, bisa dikatakan bergelimang harta.

“Goo Ha Ni.” Ujar gadis kecil itu terbata. Dia memandang takut ke arah Jongin.

“Tidak perlu takut. Dia pria yang baik.” Tukas Eun Hee dengan ramah, maklum pada ketakutan gadis kecil di hadapannya. “Ngomong-ngomong kau tinggal dengan siapa?”

“Eun Hee-ya apa yang kau lakukan?” Sergah Jongin dengan cepat. Sikap posesifnya mendadak memerintahkannya mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Sekalipun hanya pada anak kecil. “Kau tidak mengenalnya, kan? Bisa saja dia jahat dan-”

“Jong, kau tidak akan mengumpankanku pada penjahat. Aku mempercayaimu.” Sela Eun Hee yang membuat Jongin terdiam. Dia nyaris lupa bahwa dia lah yang membawa istrinya kemari.

“Ha Ni-ya siapa yang-” ucapan seorang pria dari dalam terhenti begitu dia melihat sosok Jongin dan Eun Hee. Dia segera menarik adiknya menjauh dari Eun Hee dan berniat segera menutup pintu. Tapi sebelah tangan Jongin menghalangi pintu yang nyaris tertutup tersebut, nyaris mendobraknya.

“Goo Ki Joon-ssi kita perlu bicara.” Desis Jongin. Ada nada marah karena perlakuan Ki Joon di sana. Dia selalu dihormati, selalu disambut dengan baik oleh orang-orang. Dan Goo Ki Joon melakukan hal yang amat dia benci.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan Mr Kim. Anda sudah berhasil memecat saya dan kita sudah tidak ada urusan lagi.”

“Aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu.” Ki Joon mencebikkan bibirnya. Setengah hatinya menyesal karena dia sempat berharap bahwa mungkin saja Jongin ingin meminta maaf atas insiden pemecatannya beberapa minggu lalu. Tapi dia salah besar, Kim Jongin jelas mempunyai gengsi setinggi langit untuk hal itu.

“Goo Ki Joon-ssi..” Ujar Eun Hee dengan suara lembut. “Aku tidak tahu apa yang ingin suamiku katakan padamu. Tapi melihat usahanya untuk kemari, bisakah kau memberinya kesempatan untuk berbicara? Ada sesuatu yang sangat penting.” Gadis itu menengahi, tahu bahwa jika dia tidak turun tangan hanya akan ada sebuah perdebatan tak berujung. Ki Joon tidak menjawab, tapi dia membuka pintu lebih lebar. Dia menyingkir dari sana dan mempersilahkan pasangan Kim untuk masuk.

Pemandangan kumuh nan berantakan di luar rumah Ki Joon belum apa-apa dibandingkan dengan suasana di dalam rumah kecil itu. Terdapat sebuah sofa yang sudah rusak, meja kayu yang bernasib tak jauh berbeda dan vas bunga dengan bunga mawar layu di atasnya. Tak jauh dari sofa tersebut terdapat ruangan seperti dapur yang tidak bersekat, juga sebuah tempat tidur dengan sprei biru kusam. Ada banyak debu dimana-mana, Jongin bahkan harus beberapa kali menahan nafas agar tidak tersedak oleh banyaknya debu.

“Aku tidak akan mempersilahkanmu duduk Mr Kim, sofa reyotku tidak akan mampu menampung berat tubuh kita.” Ki Joon berujar tanpa memandang ke arah Jongin, seolah dia maklum saja dengan isi kepala tuan muda tersebut.

“Aku juga tidak berniat duduk.” Jawab Jongin nyaris tanpa emosi. “Tapi aku bertanya-tanya, bagaimana kau bisa bertahan dengan kondisi seperti ini?”

“Jong!” Eun Hee menengahi, merasa tak enak pada Ki Joon dan Ha Ni akan ucapan blak-blakan suaminya.

“Tidak apa-apa Mrs Kim, saya maklum. Tapi terkadang kita tidak bisa hidup di dunia seperti yang kita inginkan. Ha Ni~ya, kau pergi main di luar, ne?” Ki Joon beralih pada adiknya, menyuruh satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya untuk keluar dari ruangan yang semakin terasa sesak itu. “Kau tentu tidak memahami hidup dalam kemiskinan seperti yang aku alami kan?” Ki Joon melontarkan pertanyaan retorisnya tepat setelah Ha Ni menghilang di balik pintu.

“Ever.” Jawab Jongin singkat seraya berjalan ke arah jendela dengan kaca kotor di sisi mereka. “Jadi, bagaimana kau bertahan dengan segala kemiskinan ini Go Ki Joon-ssi?”

“Apa kita datang kemari untuk mengomentari hidup seseorang Jong? Itu tidak sopan, tahu.” Jongin hanya mengangkat bahu menanggapi nasehat Eun Hee. Dia bahkan sama sekali tidak marah dengan ucapan istrinya. Padahal biasanya dia akan menghardik siapa saja yang sok tahu soal apa yang tengah dilakukannya.

“Tidak semua orang pernah merasakan hidup miskin. Bekerja membanting tulang hingga nyaris remuk. Untuk seseorang sepertiku, memikirkan hidup yang muluk-muluk seperti hidupmu jelas tidak dalam kapasitas otakku. Aku sudah cukup pusing memikirkan apa yang harus aku makan esok pagi.”

“Hidup orang kaya memang muluk-muluk Go Ki Joon~ssi. Semakin banyak banyak uangmu, semakin rumit hidupmu. Sejujurnya, aku terkadang berpikir ingin hidup sederhana seperti kebanyakan orang. Tapi melihat betapa kemiskinan begitu mengerikan, aku segera mengurungkan niatku.”

“Mrs Kim kau lihat kan? Suamimu terkadang benar-benar bisa mengubah keputusan seenak perutnya sendiri.” Ki Joon tertawa masam. “Tapi siapa peduli? Dia punya banyak uang, jadi semuanya mungkin saja kan?”

Eun Hee memutar bola mata sebagai tanggapan. Dia jadi setuju saja dengan keputusan Jongin membeli restoran Italia itu dan memecat Ki Joon. Sebab, pria di depannya amat sangat menyebalkan.

“Dan aku suka kenyataan bahwa suamiku kaya raya dan bisa melakukan nyaris semua hal. Bukankah aku bisa menyombongkan diri soal hal itu, huh?”

Baik Jongin maupun Ki Joon terkejut dengan ucapan Eun Hee. Ki Joon bahkan sampai mengangakan mulutnya karena mendengar nada ketus yang terlontar dari bibir wanita yang dia pikir super lemah lembut. Sementara itu Jongin menyeringai, mati-matian menahan diri untuk tidak tersenyum karena ucapan suaminya.

“Jadi Jong, apa keperluanmu di sini? Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini.” Tambah Eun Hee cepat. Dia bukan sedang menyombongkan diri saat ini. Hanya saja rasa simpatinya pada Ki Joon mendadak hilang karena tingkah tak sopan pria tersebut.

“Aku tidak tahu kalian bisa sangat cocok.” Ki Joon mencibir.

“Aku datang kemari untuk mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolong kami kemarin.” Jongin membuka suara, sedang Eun Hee mengernyitkan dahi sebagai tanda ketidakpahamannya. “Kau membantuku dan Eun Hee yang pingsan di tepi jalan. Walaupun kau bisa mengambil keuntungan dari apa yang terjadi kemarin, tapi kau tidak melakukannya. Untuk yang satu itu aku menghargaimu. Jadi terima kasih.”

“Kau yang menolong kami kemarin?” Eun Hee sudah setengah berteriak. Ki Joon hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan. Pria itu terlihat kembali menunduk saat ini, merasa begitu remeh di depan Jongin. Padahal dia sudah berpesan pada pria asing yang bekerja di rumah Jongin agar tidak memberitahukan identitasnya. Tapi pria asing tersebut adalah pegawai Jongin dan bukan pegawainya, jelas dia tidak akan mau menuruti permintaannya begitu saja, kan?

“Kau sudah selesai?” Tanya Ki Joon setelah mereka berdiam selama beberapa menit yang canggung.

“Kau berniat mengusir kami?” Jongin balik bertanya dengan nada dan tatapan ketidaksukaan yang tidak berusaha dia tutupi. “Padahal aku sudah bersusah payah datang ke tempat ini dan mengucapkan terima kasih.”

“Aku tidak memintamu datang kemari.”

“Memangnya aku terlihat seperti seseorang yang butuh izin darimu untuk datang kemari.”

“Kim Jongin-ssi!” Ki Joon sudah menaikkan nada bicaranya. Eun Hee segera berdiri dan memegang erat lengan Jongin. Sekadar mencegah sebuah perkelahian atau semacamnya.

“Calm down, sweetheart. Tidak akan ada perkelahian di sini.” Ujar Jongin lembut seraya membalas remasan tangan Eun Hee.

“Tapi Jong, dia…maksudku, bisakah kita pulang saja.”

“Aku sedang berterima kasih untuk sesuatu yang sudah dia lakukan.”

“Kau sudah melakukannya tadi.” Sergah Eun Hee cepat. Dia benar-benar tidak tahan dan ingin segera pergi dari sana.

“Cih..kalian cepat pergilah. Tidak perlu membuang waktu kalian yang berharga di sini.” Ki Joon bersoloroh, berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar.

“Kau sangat tidak sopan Ki Joon-ssi.” Eun Hee kehilangan kesabarannya. Dia bahkan nyaris melupakan fakta bahwa Ki Joon lah yang menolongnya dan Jongin saat pingsan kemarin. “Jong, sebaiknya kita segera pergi dari sini.”

“Tentu Eun Hee-ya, kita akan segera pulang.” Jongin menggenggam tangan Eun Hee lalu berjalan melewati pintu rumah Ki Joon. Tepat saat keduanya sampai di depan pintu tersebut, Jongin berbalik kali ini wajahnya sedikit lebih bersahabat.

“Aku hanya tidak suka berhutang budi. Kau adalah seorang sarjana interior design sangat sayang jika kau hanya menjadi seorang tukang cuci piring di kedai ramen.”

“Da-darimana kau tahu?” Ki Joon berbicara dengan terbata, sedangkan Jongin hanya mencebikkan bibirnya sebagai jawaban.

“Itu tidak penting, kan? Aku tahu semuanya, termasuk fakta bahwa adikmu menderita leukimia stadium tiga. Dia perlu banyak biaya untuk pengobatannya. Jadi berhenti bersikap angkuh dan datang ke Kim Industries besok pagi jam 8.”

“Jadi ini tujuanmu mendatanginya?’ Eun Hee berbisik di telinga Jongin. Pria itu mengangguk ringan, mengacak pelan rambut istrinya.

“Kau boleh punya harga diri setinggi langit, juga menolak setiap bantuan yang datang kepadamu. Hanya saja kau tidak bisa selalu menjadi seorang egois yang mengabaikan masa depan adikmu. Dia masih bisa disembuhkan, aku kenal dokter terbaik di berbagai penjuru dunia. Dan dia satu-satunya keluarga yang kau miliki, kan?” Jongin melontarkan pertanyaan retorisnya. Ki Joon menunduk semakin dalam. Kim Jongin memang super terkenal. Hanya saja dia terlalu meremehkan pengetahuan pria itu dalam banyak hal.

“Kau tidak punya alasan lagi untuk menolak balas budiku Goo Ki Joon-ssi.” Jongin menambahkan, kali ini benar-benar menarik Eun Hee untuk pergi dari rumah itu. Dia sendiri tidak tahan berlama-lama berada di dalam rumah yang besarnya tak mencapai kamar mandi di mansionnya.

**

“Aku tidak tahu jika suamiku sangat baik hati.” Eun Hee berbicara dengan nada riang saat keduanya dalam perjalanan pulang.

“Itu terdengar seperti ucapan “aku sangat mencintaimu, Jong.” Eun Hee memukul pelan lengan Jongin, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena godaan sederhana suaminya sendiri.

“Tapi kau benar-benar keren, maksudku dari mana kau tahu semua informasi tentang Goo Ki Joon? Kau bahkan tahu setiap detail masalah yang menimpa pria itu. Sebenarnya aku sangat sebal dengan tingkah tidak sopannya. Sayangnya dia sudah menyelamatkan kita berdua kemarin. Jadi, aku bisa apa?” Eun Hee berbicara nyaris tanpa jeda. Jongin yang tengah berkonsentrasi menyetir mendadak menepikan mobilnya. Pria itu menatap lekat Eun Hee, masih dengan sebelah tangan memegang kemudi.

“Kau sangat berisik, tahu.” Ujar Jongin, sebelah tangannya mengusap pipi Eun Hee. Gadis itu terdiam di tempatnya, memukul mulutnya yang sudah lancang berbicara terlalu banyak.

“Maaf aku tidak bermaksud-”

“Aku terkadang bertanya-tanya kenapa kau masih saja belum terbiasa dengan hal-hal remeh tentang bagaimana aku bisa dengan detail mengetahui suatu hal? Jika aku mau aku bisa mendapatkan semua informasi dari setiap penduduk Korea dengan detail. Aku punya belasan milyar dolar Eun Hee-ya. Menurutmu apa yang tidak mungkin?”

“Sombong sekali.” Cibir Eun Hee kesal, dia mempoutkan bibirnya dengan asal tanpa memikirkan akibat tindakan sederhananya tersebut pada Jongin.

“Aku patut menyombongkan diri, kan? Dan kau mempoutkan bibirmu.” Sergah Jongin, kali ini dengan nada frustasi. Dia sudah sepenuhnya terfokus pada bibir Eun Hee yang terlihat menunggu bibirnya.

“Apa? Aku hanya-” Ucapan Eun Hee tertahan oleh bibir Jongin yang saat ini sudah menjelajah bibirnya. Ciuman itu adalah jenis ciuman rakus, menggebu-gebu dan merampas pasokan oksigennya. Hanya saja kali ini Jo Eun Hee tidak keberatan. Dia bahkan mengalungkan kedua tangannya di leher Jongin, semakin memangkas jarak di antara keduanya.

“Terima kasih.” Ujarnya di sela-sela ciuman mereka.

“Terima kasihnya nanti saja. Kau berhutang banyak sekali padaku, sweetheart.” Jongin menjawab asal, sementara dia sibuk menahan tengkuk Eun Hee agar ciuman mereka semakin dalam.

Kim Jongin tidak berniat menyembunyikan sesuatu. Juga fakta bahwa dia sudah bermimpi begitu buruk soal kelangsungan hidupnya dan Eun Hee. Dia hanya tidak mau membagi rasa frustasinya dengan Eun Hee. Kali ini dia ingin bertindak egois. Paling tidak untuk penyelesaian masalahnya, dia sudah melibatkan Eun Hee untuk mendatangi Go Ki Joon dan mengucapkan terima kasih. Dengan hal tersebut dia bisa jadi mengurangi kadar rasa bersalahnya pada Eun Hee.

Sementara soal Go Ki Joon, dia adalah seorang pebisnis yang handal. Dia bahkan mempunyai 1000 % keyakinan bahwa dia tentu saja sudah berhasil membujuk Ki Joon untuk bekerja di Kim Industries. Dia tidak pernah merasa menyesal membeli restoran Italia tempat Ki Joon bekerja dahulu. Termasuk pada kenyataan bahwa dia juga sudah memecat Ki Joon dengan tidak hormat dari sana. Tapi ada sisi dimana dia lagi­-lagi bersikap egois dan tidak mau merendahkan harga dirinya lagi. Dia tidak suka berhutang budi. Maka dia akan membalas apa yang telah Ki Joon lakukan padanya. Tentu saja dengan banyak kebaikan yang pria itu belum pernah bayangkan di sepanjang hidupnya.

Jongin akan memikirkan Ki Joon nanti. Sekarang dia ingin menikmati kembali sensasi sesak karena berciuman dengan Eun Hee. Dan dia jadi mempercayai dongeng konyol tentang bahagia selamanya. Sebab ada Eun Hee di sisinya.

END

Note :

Halo..semoga kalian menikmati kisah Possessive Husband ini. Terima kasih untuk kesabaran kalian menantikan setiap chapter yang terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi kalian.

Maaf…saya akan terus belajar.

 

Saya memutuskan untuk memposting chapter terakhir ini karena saya juga ingin berbagi dengan kalian yang belum bisa membeli e-book atau novel. Untuk yang sudah membeli baik ebook atau novel saya sangat berterima kasih. Dan untuk menghormati kalian, saya tetap memprotek beberapa chapter FF Possessive Husband. Jadi kita semua bisa menikmati kisah ini bersama. Bahagia bersama juga, mungkin?

 

Bagi kalian yang menantikan FF A Thousand Shadows, be patient…

I’m working on it. Untuk ebook nanti saya buat juga. Tapi bagi yang tidak bisa membeli jangan khawatir. Karena saya pasti akan tetap mempostingnya sampai habis, walaupun dengan tenggat waktu yang berbeda dengan perilisan ebook itu. Jadi bagi yang berniat membeli tentu akan mengetahui akhir cerita dengan lebih cepat. Tapi bagi yang tidak bisa membeli tetap bisa menikmati kisah Sehun dan Da Hye sampai akhir.

 

Ada yang sudah mengikuti give away di fanpage saya? Maaf saya belum mengumumkan pemenangnya. I’ve been so busy nowdays. Nanti akan saya cek ulang dan saya umumkan pemenangnya ya..

 

Ada pertanyaan?

Silahkan kontak saya melalui

e-mail              : naralee0401@gmail.com

line                  : nara_lee0401

instagram       : bellecious0193

facebook         : www.facebook.com/Bellecious0193

 

Have a nice day

 

 

Na Ra Lee

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements