exo-sehun-criticized-by-netizens-over-rude-instagram-update

“One of the best feeling in this world is when I dream about you in my sleep, then when I wake up you are right beside me, then I can reach you.”

Wanita itu bergulung tak nyaman dalam tidurnya. Dia lalu membuka mata, mengubah posisi dan begitu seterusnya. Matanya luar biasa lelah, tapi tubuhnya benar-benar menolak diajak untuk bekerja sama. Padahal seharian ini dia belum tidur sama sekali. Dia lalu mengangkat sedikit kepalanya, menatap pemandangan maha indah yang tengah memejamkan mata. Pria itu, Oh Sehun tertidur dengan sangat pulas. Dan dia hanya bisa menahan diri agar tidak meneteskan liur melihat betapa mempesona suaminya bahkan saat tidur. Dia memandang gerakan teratur dada Sehun saat bernapas, menyentuhnya perlahan, sekadar memastikan bahwa pria tersebut masih manusia dan bukannya vampir tampan seperti di seri Twilight favoritnya.

Lee Da Hye mendenguskan napasnya kasar, merasa tolol karena seolah tak ada habisnya mengagumi sosok Oh Sehun yang sudah sejak enam bulan lalu bisa dia klaim sebagai miliknya yang legal. Walau tentu saja dia masih harus menahan amarah mengingat suka atau tidak, Sehun selalu menjadi objek mimpi basah banyak wanita lain jika merujuk pada ketampanan dan harta bendanya yang membuatnya sakit hati jika tahu jumlahnya.

Jemari kurus Da Hye terulur, tak tahan untuk tak menyentuh wajah bak pualam milik Sehun, merasakan tekstur kulitnya yang selembut kulit bayi. Lalu detik berikutnya, di dera perasaan tak keruan dia melingkarkan sebelah tangannya di tubuh pria itu, memeluknya erat-erat seolah itu pelukan terakhirnya.

“Tidak bisa tidur lagi, huh?” Suara berat Sehun terdengar, sedang Da Hye masih tidak bergeming dari posisinya. Dia menenggalamkan wajahnya di dada Sehun, menghidu.

“Apa kita perlu ke dokter? Jika kau terus menerus tidak bisa tidur seperti ini kesehatanmu bisa terganggu, tahu?” Sehun berujar lembut, membelai surai panjang Da Hye dengan sebelah matanya.

“Berhenti menjadi sosok hiperbola, Sir.

“Suamimu sedang mengkhawatirkan kesehatanmu, dan kau malah menyebutnya hiperbola, manis sekali.” Sehun berujar sarkas, sama sekali tak memperdulikan dentuman di rongga dada Da Hye karena pria tersebut sudah dengan gamblang menyebut status di antara mereka saat ini.

“Mungkin aku hanya merindukanmu.”

“Kau sudah mengatakannya lima kali hari ini.”

“Mau bagaimana lagi? Aku memang merindukanmu.”

“Aku kan di sini saja, tidak ke mana-mana Lee Da Hye.”

“Ya, untuk saat ini. Tapi besok? Lusa? Kau selalu saja sibuk dengan pekerjaanmu, menghadiri meeting ini dan itu, selalu seperti itu.”

Sehun bangkit dari posisinya, menangkup wajah Da Hye dengan kedua tangan besarnya. Dia lalu memandangi wajah tersebut dengan dahi berkerut, seolah sedang berusaha membaca isi kepala istrinya.

“Kau sedang merajuk, ya?”

“Menurutmu?”

“Lalu apa maumu?” Sehun menyergah, tak mau berlama-lama dengan spekulasi yang menyebalkan. Dia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, mencoba berbicara dengan posisi yang nyaman.

“Apa mauku tidak penting.”

“Katakan saja, asal kau tidak memintaku untuk menjadi seorang pengangguran dan menungguimu di rumah selama dua puluh empat jam, aku akan bosan denganmu jika sampai aku menyetujuinya.”

Sehun mengatakan kalimatnya dengan tegas dan dingin, tak terbantahkan seperti biasa. Da Hye yang kesal hanya bisa merengut sebelum membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Sehun. Selalu saja pria itu bisa membaca isi kepalanya dengan mudah, seolah dia adalah buku terbuka yang tak bisa menyembunyikan apapun.

“Aku tidak tahu jika cintamu begitu dangkal Oh Sehun.” Ujarnya dengan emosi yang meletup-letup.

“Sebaiknya kau berhati-hati dengan apa yang kau katakan Miss Lee. Jika kau menganggap remeh perasaanku, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Lagi pula jika aku tidak benar-benar jatuh cinta padamu, aku tidak akan repot menikahimu, terikat dengan orang yang sama seumur hidup. Dulu itu sangat bukan gayaku, tahu?”

Da Hye membalikkan tubuhnya lagi, kali ini dia menatap serius wajah Sehun, sedikit merasa bersalah dengan apa yang dia katakan barusan. Mulutnya memang kerap bekerja di luar kendali.

“Kau sangat ahli berdebat, Sir.

Sehun terdiam, tak menanggapi apa yang Da Hye katakan. Pria itu hanya menatap lurus, bukan ke arah Da Hye melainkan ke arah kehampaan udara di depannya. Dia nampaknya sedang berpikir keras mengenai sesuatu hal.

“Lee Da Hye…”

Yes, sir?” Da Hye menjawab spontan, dengan panggilan yang sama seolah Sehun masih saja atasannya.

“Menurutmu apa perasaan terbaik di dunia?”

“Entah. Mungkin perasaan saat aku bersamamu.” Wanita itu menjawabnya nyaris tanpa berpikir. Dia bahkan tak mau menduga-duga tentang alasan pertanyaan Sehun. Lagi pula sedikit banyak dia sudah terbiasa dengan kebiasaan Sehun yang gemar mengubah-ubah topik pembicaraan sesuka hatinya.

“Paling tidak kau harus memikirkan jawabanmu dengan baik dan tidak memberikan jawaban tanpa berpikir seperti itu.”

“Mau bagaimana lagi?” Da Hye mengangkat bahu. “Memang seperti itu kenyataannya. Lagi pula saat ini aku tidak lagi merasa gengsi untuk mengatakan bahwa kau sudah menjajah penuh hidupku. Sayangnya aku tidak keberatan, aku malah mau kau melakukannya seumur hidup.”

Lee Da Hye bersumpah dia melihat semburat merah di wajah Sehun karena apa yang dia katakan barusan. Tapi pria itu selalu saja punya seribu satu cara untuk menyembunyikan hal tersebut. Hanya sepersekian detik dan Oh Sehun sudah kembali dengan wajah tanpa ekspresinya.

“Kau tidak ingin menanyakan hal yang sama padaku?” Sehun bertanya retoris, sebuah pengalihan akan jantungnya yang berdebar tak keruan karena pengakuan blak-blakan Da Hye tadi. Wanita tersebut hanya mengangguk, melupakan Sehun yang tersipu dan mendadak antusias dengan jawaban yang akan Sehun berikan.

“Perasaan terbaik adalah saat aku bangun dari tidurku dan aku menyadari apa-apa saja yang terjadi dalam mimpiku.”

Hening. Da Hye sama sekali tak menanggapi, dia masih fokus menyimak perkataan Sehun.

“Kau tahu? Mimpi itu tentang kau.” Lee Da Hye hanya ber”oh” ria sebelum nyaris menjerit karena bahagia. Oh Sehun memimpikannya, indera pendengarannya pasti sudah rusak, atau malah otak Sehun yang bermasalah? Dia terus bertanya-tanya hal yang tak masuk akal di dalam hatinya. Tapi dia masih bergeming, tak mengatakan apa pun dan terus menyimak Sehun.

“Aku suka saat aku bermimpi tentangmu. Mimpi yang sederhana, di mana aku bisa menggenggam tanganmu, berjalan beriringan, atau bahkan hal sepele seperti duduk di teras rumah dan saling mengobrol.” Sehun tersenyum, mengingat kembali mimpinya tadi. Kali ini semburat merah itu terlihat jelas, dan dia tak lagi berusaha menutupi hal tersebut.

“Lalu kemudian aku terbangun dan ada kau di sebelahku. Itu perasaan terbaik yang pernah aku rasakan. Memimpikanmu, lalu saat bangun aku bisa menjangkaumu kapan saja. Rasanya bahkan lebih baik dari memenangkan tender senilai ratusan juta dollar sekalipun. Karena kau milikku yang paling berharga, istriku. Lee Da Hye.” Dia mengucapkannya dengan tulus, lalu mendaratkan sebuah ciuman dalam di dahi. Dan dia baru sadar satu hal bahwa dia mencintai Lee Da Hye sebanyak itu.

 

END

Note :

Wanna contact me?

Instagram : april_0193

Line : nara_lee0401

Have a nice day

 

Na Ra Lee

Advertisements