pregnant-woman-and-husband

Cast :

Kim Jongin

Jo Eun Hee

Wu Yi Fan as dr. Wu

Lee Na Ra as Na Ra Wu

PS : Ini buat yang masih ragu buat beli The Felix Felicis, saya kasih bocoran di salah satu partnya. Ini full 29 halaman, ya! Happy reading ^^

Have question? Ask me :

Instagram : april_0193

Line            : nara_lee0401

“Sekali dua kali aku pernah menertawakan kecemburuannya padaku, menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang konyol. Dia sering kali berlebihan jika sudah menyangkut klaim atas kepemilikannya terhadapku. Hal yang pada akhirnya menimpaku juga. Rasanya tidak enak, seperti kau akan kehilangannya. Aku mendadak takut, sebab membayangkannya saja sudah nyaris membuat sekujur tubuhku lemas. Bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi? Aku pasti lebih baik mati saja.” Kim Jongin

Kim Family Apartment, Seoul

4 AM

Jarum jam masih menunjukkan pukul empat pagi, waktu yang sebenarnya masih sangat ideal untuk tidur. Tapi toh tak semua orang bisa menikmati tidur di pagi buta, beberapa dari mereka ada yang harus menderita. Karena sejatinya dunia tidak berisi orang-orang yang bahagia saja. Jo Eun Hee misalnya, dia termasuk orang yang tidak beruntung pagi itu. Bagaimana tidak? Pagi buta dia sudah harus berkali-kali ke kamar mandi karena perutnya bergejolak. Mungkin sudah kali keenam dia memuntahkan isi perutnya di wastafel, rasanya dia ingin pingsan saja.

“Hoeek..hoeek.. “ Dia memukul-mukul dadanya yang sesak, sudut-sudut matanya meneteskan air mata karena terlalu banyak muntah. Sepanjang pagi dia juga terus menggerutu.

Aish jinjja.. Kenapa aku seperti ini hooek hooeek…”

Wajahnya kian pucat pasi, ditambah fakta bahwa dia tak bisa menelan apapun sejak sore hari jelas kian memperparah kondisinya. Jongin yang mendengar suara gaduh di kamar mandi berjalan dengan mata setengah tertutup menyusul istrinya. Kesadaran pria itu segera terkumpul mendapati Eun Hee yang terus muntah. Dia mendekat, memijit pelan tengkuk istrinya tanpa berkata sepatah katapun alih-alih merasa jijik.

“Apa yang kau lakukan di sini? Keluar!” Eun Hee setengah membentak, bukan maksudnya demikian tentu saja. Dia hanya tidak suka Jongin melihatnya dalam kondisi kacau seperti sekarang ini.

“Eun Hee-ya..” Dia memanggil nama istrinya sekali tanpa menghentikan gerakan tangannya. Wajahnya jelas mengisyaratkan kecemasan.

“Keluarlah.. Kau tidak seharusnya melihatku seperti ini.” Eun Hee sedikit mendorong tubuh Jongin agar menjauhinya. Jongin mengernyitkan dahi, tapi posisinya sama sekali tidak berubah dan menuruti Eun Hee untuk menjauh.

“In sickness and health remember?” Pria itu mengulang sebaris sumpah pernikahan mereka yang membuat Eun Hee menarik garis bibirnya, mencoba tersenyum di antara ketidaknyamanan yang saat ini tengah dia rasakan. Jongin ingat betul sumpah mereka di depan altar. Sumpah untuk tetap bersama yang lain dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan.

“Kau sakit?” Jongin memegang dahi Eun Hee, memeriksa suhu tubuh gadis tersebut. “Kita harus segera ke rumah sakit.”

“Tidak aku tidak apa-apa.” Sergah Eun Hee menolak saran Jongin.

“Mungkin karena kemarin aku terlalu banyak makan makchang dan soda jadi seperti ini. Aku lupa kalau perutku sensitif terhadap soda.”

“Kim Eun Hee kenapa kau terlalu banyak melupakan hal-hal penting, huh?”

“Tapi aku tidak melupakanmu Kim Jongin.”

Keduanya tersenyum mendengar jawaban Eun Hee. Dia mencoba mencairkan suasana sekaligus mencoba membuat Jongin untuk melupakan ajakannya ke rumah sakit. Dia benci rumah sakit. Jongin terdiam sejenak, nampak berpikir keras sebelum dia terhentak karena ide yang begitu saja muncul di otaknya. Dia menjentikkan jari, nyaris melompat-lompat kegirangan karena gagasan yang bahkan belum dia utarakan.

“Apa mungkin kau hamil?” Pria itu menebak-nebak, girang setengah mati.

“MWO?”

“Kemungkinan kau hamil sangat besar Eun Hee-Kemungkinan kau hamil sangat besar Eun Hee-ya. Sekarang sudah tanggal satu, telat dua minggu dari jadwal menstruasimu.”

Omo!” Eun Hee mengatupkan kedua tangannya di depan dada, nampak takjub dengan apa yang Jongin utarakan. Pria itu bahkan lebih hapal jadwal menstruasinya dari pada dia sendiri.

“Kau tahu aku sebenarnya ingin melompat-lompat bahagia, tapi semua belum pasti. Sebaiknya kita segera menemui dr. Wu.” Eun Hee mencoba berpikir logis, dia tidak mau menebak-nebak dan berakhir kecewa jika saja semua tak sesuai seperti ekspektasi mereka.

“Yak! Untuk apa menemuinya? ” Ada nada cemburu tersirat jelas pada kalimat Jongin. Pria itu ingat betul dengan dokter Wu, dokter muda dan tampan yang merawat Song Hyunjoo. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya berhubungan dengan orang semacam dokter Wu yang menurutnya membahayakan reputasi ketampanannya.

“Tentu saja memeriksakan kondisiku Jong. Apa kau lupa dr. Wu seorang dokter kandungan?”

“Bukankah dia dokter bedah? Ah molla..molla Pokoknya kita cari dokter lain saja!” Jongin merajuk, tampak seperti anak kelas tiga sekolah dasar yang memaksa ibunya membelikan permen kapas. Tak lupa untuk melengkapi aksi merajuknya, dia menghentak-hentakkan kaki di lantai.

“Kenapa? Dr. Wu baik.. Lagipula kita sudah mengenalnya. Selain baik dia juga muda, tampan, dan pengertian. Ah iya.. dia juga sangat sabar.” Tanpa sadar Eun Hee memuji setiap kelebihan dokter Wu, membuat Jongin yang mendadak labil kian tersulut emosi.

“Kim Eun Hee apa kau sedang menjadi fangirlnya? ” Jongin menatap tajam ke arah Eun Hee, nada datarnya mengisyaratkan ketidaksukaan.

“Tidak Jong, aku hanya mengatakan kebenaran. Jadi, apa dia sudah menikah?”

“KIM EUN HEE!!!” Jongin berteriak dengan sekuat tenaga pada Eun Hee. Efeknya sangat di luar dugaan, karena Eun Hee mendadak limbung. Tak lama, gadis itu pingsan tepat di hadapan Jongin.

“EUN HEE-ya!” Jongin kembali memekik, pita suaranya nyaris putus karena teriakan tersebut. Tanpa pikir panjang, dengan langkah serampangan karena panol Jongin menggendong Eun Hee menuju mobilnya di basemen apartemen yang mereka huni. Dia mengabaikan tatapan heran orang-orang terhadapnya. Otaknya sudah penuh karena kondisi Eun Hee. Dia tahu orang-orang pasti berpikiran tidak-tidak seperti “kasian sekali istrinya pasti kelelahan bercinta”, “suaminya tidak tahu diri sekali”, atau “oh so hot, Kim Jongin is hot.” Well yang terakhir dia meralat pikiran bodohnya mengingat bahwa ini bukan saatnya untuk membanggakan diri.

**

Seoul Hospital, Seoul

Jongin dengan terengah-engah menggendong istrinya menuju ruang praktek dr. Wu. Dia kembali mengabaikan orang-orang yang memandang aneh padanya. Karena panik, dia bahkan lupa bahwa tadi sebelum Eun Hee pingsan mereka berdenat sengit untuk mencari dokter lain selain dokter Wu. Tapi tanpa sadar, lagi-lagi dia harus mengalah pada istrinya.

Indeed Kim Jongin.

Sebagian orang di sana tentu akan mengira jika Kim Jongin tidak sepenuhnya waras jika saja beberapa dari mereka tak melihat Maybach yang dikendarai pria tersebut. Sebab, penampilan Jongin pagi itu memang jauh dari kesan “waras”. Rambutnya sangat berantakan, kedua matanya masih sembab, sandal bulu rumahan adalah apa yang menjadi alas kakinya, dan bagian yang paling fatal adal piyama tidur yang masih dia kenakan. Kepanikan membuatnya lupa untuk berganti baju atau memperhatikan tetek bengek soal penampilan.

Nafas Jongin terengah-engah saat Dia akhirnya mencapai ruangan dr. Wu dan membaringkan istrinya di ranjang di sana untuk di periksa.

“Kim Jongin-ssi, gwenchana?” dr. Wu terlihat terkejut melihat Jongin dengan penampilan kacau menggendong istrinya dengan panik.

“Tol-ongg per-ik-sa ist-rihhku duluhh…” Jongin berbicara dengan nafas terengah-engah. Pria itu bahkan harus memukul-mukul dadanya berkali-kali, mencoba mendapatkan paksokan oksigen yang cukup untuk paru-parunya. dr.Wu mengangguk dan segera memeriksa keadaan Eun Hee. Dokter muda itu memeriksa suhu tubuh, tekanan darah serta denyut nadi Eun Hee serta melakukan metode pemeriksaan leopold satu. Dokter tersebut segera melakukan pemeriksaan leopold mengingat bahwa Jo Eun Hee pernah memberitahunya bahwa Jongin mengajaknya bercinta nyaris setiap malam. Dan dia yakin benar bahwa apa yang Eun Hee alami berkaitan erat dengan gejala kehamilan.

“Jadi bagaimana dia?” Jongin bertanya dengan tidak sabar setelah dia bisa menarik napas dengan benar. dr. Wu menatap sesaat ke arah Jongin, sebelum kemudian berjalan ke arah meja kerjanya.

“Sejak kapan dia seperti itu?” Dia tampak menuliskan sesuatu pada kertas di depannya.

“Baru tadi pagi. Bisakah kau beritahu aku bagaimana keadaanya?” Jongin sedikit mendesak, tidak sabaran seperti biasanya. dr. Wu tersenyum sebagai jawaban.

“Selamat Jongin-ssi kau akan jadi seorang ayah.”

“Ne? Aku bertanya kondisi istriku tapi kau malah-“ Jongin menghardik, bersiap menyumpahi dokter tampan di hadapannya dengan segala makian. Tapi kemudian teriakkan mengambang di udara, digantikan dengan kebingungan akan ucapan dr. Wu.

Mwo? Aku akan menjadi seorang ayah, itu berarti-“

Mrs. Kim hamil. Saat ini sudah memasuki minggu keduanya.” dr. Wu melanjutkan kalimat yang belum terselesaikan oleh Jongin, dia mengulum senyum, ikut merasakan atmosfer kebahagiaan pasangan tersebut.

Omo.. Oh My GodHoly Jesus, God!

Jongin begitu bahagia hingga dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia hanya terus menyebut nama Tuhan. Dan dr. Wu hanya bisa tersenyum kian lebar melihat orang yang akan segera menjadi ayah tapi berkelakuan seperti seorang remaja.

**

Eun Hee menggeliat pelan saat ia merasakan beban berat di sisi tubuhnya. Ada tangan yang melingkar di perut ratanya. Dia mengerjapkan mat, mencoba menyesuaikan diri dengan ruangan serba putih yang terasa asing baginya. Ini bukan kamarnya dan Jongin, terlebih ada bau obat-obatan yang menyengat. Gadis itu kembali menoleh ke samping dan mendapati wajah suaminya tengah tertidur pulas. Ada selang infus di tangan kanannya. Eun Hee masih terdiam seraya menebak-nebak tempat di mana dia berada sekarang.

“Oh damn it! Kim Jongin!!!!” Gadis tersebut memilih berteriak, dibandingkan membangunkan Jongin dengan cara yang sebagai mana mestinya. Sebab, dengan cara normal bisa dipastikan Jongin akan terbangun minimal dua jam ke depan. Tapi bukannya segera bangun, respon Jongin sangat santai. Dia menggeliat pelan, mengeratkan pelukan tanpa berniat membuka mata.

“Yak! Bangunlah Jong apa yang kau lakukan di sini? Di mana kita? Oh Ya Tuhan.. Apa aku di surga?” Eun Hee mengalami disorientasi pada lingkungan sekitarnya. Kali ini bukan karena pesona Kim Jongin, melainkan karena nyeri di kepala dan perutnya yang belum sepenuhnya reda. Jongin akhirnya merespon begitu mendengar kata surga, d langsung terbangun dan menopang kepalanya dengan sebelah tangannya.

Omo sayang..” Jongin berbicara dengan nada girang, membuat Eun Hee heran kenapa Jongin begitu bahagia dengan pertanyaan yang baru dia ajukan.

“Kau baru bangun dan langsung menginginkannya? Baiklah aku akan membuatmu merasakan surga dunia.” Dia berujar dengan percaya diri, sebelum melepas satu per satu piyama tidur yang masih dikenakannya.

Pletak!

Eun Hee memukul keras kepala Jongin dengan cukup keras, lagi-lagi tidak habis pikir dengan betapa mesum suaminya.

“Pervert!”

“Yak kenapa memukulku!” Jongin berteriak, tidak terima dengan pukulan yang Eun Hee lakukan. Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, mencoba memupuk sebanyak mungkin kesabaran untuk menghadapi suamianya yang berotak kelewat mesum.

“Jadi kita di mana Jong?” Eun Hee mengulang pertanyaannya, mengharapkan jawaban sejelas mungkin dari suaminya.

“Seoul Hospital

“Kenapa kita di sini?”

“Apa kau baru saja mengalami amnesia?” Jongin berbicara dengan nada datar yang membuat Eun Hee kesal.

“Kau hanya perlu memberikan jawaban seperlunya, Jong. Tidak perlu mengatai istrimu sendiri mengalami amnesia.” Eun Hee menyergah dengan kesal, seketika terdiam mendapati ekspresi kekesalan yang terpatri jelas di wajah Jongin. Bersamaan dengan perdebatan yang nampaknya akan segera dimulai, datanglah dua orang berpakaian serba putih memasuki ruang rawat Eun Hee. Dalam hati pasangan suami istri tersebut benar-benar bersyukur karena mereka tak perlu memikirkan kata-kata untuk mendebat pasangannya.

“Selamat malam Mr dan Mrs Kim” dr. Wu menyapa dengan ramah.

“Selamat malam dr.Wu ” Jongin dan Eun Hee menjawab bersamaan. Wajah Eun Hee segera berseri begitu memasuki ruangan, berbanding terbalik dengan wajah masam yang Jongin tunjukkan.

“Jadi apakah aku menganggu kegiatan kalian?” dr. Wu tersenyum menggoda melihat posisi Jongin yang sedang memeluk erat tubuh Eun Hee.

“Ne?” Eun Hee yang awalnya segera mendorong tubuh Jongin sampai terjatuh dari tempat tidur begitu mengetahui arah pandangan dokter tersebut pada keduanya. Jongin yang tak tahu akan mendapatkan reaksi begitu kejam dari Eun Hee hanya bisa pasrah mendapati dirinya harus terjerembab di lantai rumah sakit yang dingin.

“KIM EUN HEE, NEO MICHEOSSEO?” (Kau gila?) Jongin berteriak kencang seraya mengelus punggungnya yang nyeri. Dia mulai berpikir untuk mengajukan rawat inap mengingat betapa kerasnya dia jatuh di lantai.

“Maaf dr. Wu suamiku memang seperti itu, jadi kau akan mengecek kondisiku?” Gadis itu mengabaikan teriakan sengit suaminya, atensinya kini hanya untuk sang dokter semata.

“Ne.” dr.Wu tersenyum kembali dan menghampiri Jongin yang masih terduduk di lantai. “Jongin-ssi gwenchana?” Dia membantu Jongin berdiri, mendudukkan pria tersebut di sofa yang tersedia di dalam ruangan.

“Tentu saja tidak. Aku merasa jika tulang ekorku sudah retak. Apa aku perlu melakukan CT Scan, rawat inap atau semacamnya mungkin?”

“Berhenti mengatakan hal yang berlebihan Jong.” Eun Hee memutar bola matanya dengan malas, sementara dr. Wu cukup sopan untuk tidak tertawa melihat tingkah ajaib pasangan Kim.

“Kau hanya jatuh dari tempat tidur bukan dari lantai lima sebuah gedung. Ck!” Gadis itu mendecakkan lidah, mengabaikan wajah kesakitan suaminya yang terlihat begitu berlebihan di matanya.

“Yak kau-” Jongin sudah akan mendebat Eun Hee saat dr. Wu berinisiatif menginterupsi, mencegah keributan di ruangan yang seharusnya dipenuhi ketenangan.

“Jadi bisakah aku mulai memeriksa keadaan Mrs.Kim?” Ujarnya dengan sopan. Jongin mengerling kesal, melipat dua tangannya di depan dada.

Dokter muda itu kemudian memeriksa keadaan Eun Hee dan kembali tersenyum menatap pasien juga suaminya. Jongin masih menaruh dendam karena dia sudah didorong dengan begitu kejam oleh istrinya sendiri. Seharusnya Eun Hee memberikan pelukan hangat, ciuman ucapan terima kasih karena dia sudah dengan susah payah membawa gadis itu ke rumah sakit. Dari semua yang membuatnya luar biasa kesal, tak lain adalah senyum lebar Eun Hee pada dr. Wu. Sangat menjengkelkan jika dia boleh menambahkan.

“Keadaan Mrs. Kim sudah semakin baik, Anda bisa pulang besok pagi. Tapi jangan lupa untuk selalu menjaga kondisi tubuh Anda, jangan stres dan minum susu nutrisi yang sudah aku sudah resepkan.” Suara bass dr. Wu lagi-lagi menginterupsi aura permusuhan di antara Jongin dan Eun Hee. Dia tahu benar bagaimana menengahi perdebatan di antara keduanya.

“Jongin-ssi jagalah istrimu dengan baik, awal-awal kehamilan akan menjadi periode yang sedikit berat untuk beberapa wanita. Mereka akan seringkali mengalami morning sickness, seperti mual dan muntah. Tapi kalian tidak perlu kuatir, itu adalah hal yang normal. Dan jangan lupa untuk mengecek kondisi kehamilan Mrs. Kim setiap sebulan sekali.”

“Woah..dr.Wu, Anda hebat sekali.” Eun Hee melontarkan pujiannya, tanpa benar-benar mendengarkan apa yang dokter tersebut katakan. Butuh sekitar sepuluh detik hingga akhirnya dia bisa sepenuhnya sadar bahwa dia tengah mengandung anak Jongin, darah dagingnya.

“Tenyata aku hamil, Jong..ya Tuhan.” Ekspresinya terlihat masih tak sepenuhnya senang, berbanding terbalik dengan ekspresinya saat menanyakan status pernikahan dr. Wu.

“Eh by the way dr.Wu apa Anda sudah menikah?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Eun Hee, membuat wajah Jongin semakin tertekuk kesal. Saat dr.Wu akan menjawab pertanyaanya Jongin menginterupsinya.

“Baik dokter, aku mengerti!!” Suami sah Jo Eun Hee itu menjawab dengan mengerutukkan giginya, dan dr. Wu adalah orang yang cukup cerdas untuk mengetahui maksud di balik perkataan Jongin. Ia hanya melempar senyum yang membuat Eun Hee semakin berbinar.

“Jongin-ssi, ini..” dr.Wu menyodorkan sebuah goodie bag berwarna coklat.

“Ige mwoya?” Jongin berjengit, memandang curiga pada goodie bag yang dipegang dr. Wu. Pria itu seolah mempunyai kebiasaan untuk berprasangka buruk pada dokter tersebut.

“Baju dan celana ganti, kau tidak mungkin kan keluar dengan piyama itu lagi? Kecuali jika kau ingin seluruh Seoul Hospital memandangmu.”

Jongin memandang dirinya sendiri, nyaris berteriak karena terkejut dengan penampilannya saat ini. Biasanya dia adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan, dan apa yang dia kenakan di depan umum tadi adalah bencana. Reputasinya sebagai pria keren benar-benar sudah ternoda. Tanpa pikir panjang, dia segera menyambar goodie bag goodie bag yang disodorkan dr. Wu, luar biasa malu karena sudah berpikiran yang tidak-tidak. Sedang tanpa belas kasih, Eun Hee malah terbahak-bahak mendapati penampilan kacau Jongin. Setidaknya untuk kali pertama di seumur hidupnya dia bisa melihat Kim Jongin yang berantakan.

N-ne?? Gamsahamnida dr.Wu, aku akan segera mengembalikannya padamu.” Dia mengucapkannya dengan cepat, tanpa sekalipun melihat lagi ke arah dokter tersebut.

“Tidak perlu terburu-buru, baiklah aku permisi. Selamat malam.”

Saat dr. Wu menutup pintunya dia terkekeh pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa bisa ada pasangan suami istri seperti mereka? Dia masih ingat betul bagaimana Eun Hee menangis di pemakaman dan sekarang gadis itu dengan manja berpelukan dengan suaminya. Betapa waktu sangat cepat berlalu dan orang-orang punya cara yang sangat luar biasa untuk menyembuhkan luka, menggantinya dengan kebahagiaan berkali-kali lipat. Separuh hatinya begitu iri. Entah kenapa, dia hanya iri pada mereka yang bisa menyembuhkan luka dengan cepat, melanjutkan hidup seolah tak pernah ada kesedihan yang pernah menerpa.

**

The Next Morning

Saatdi mana Eun Hee akhirnya diperbolehkan pulang, Jongin dengan cepat membawa istrinya ke apartemen mereka. Dia akan menggunakan segala usaha yang dia bisa agar istrinya tidak lagi bertemu dengan dr. Wu. Jika tidak, dia akan disuguhi pemandangan memuakkan berupa “aksi kagum yang seolah tak ada habisnya” yang terang-terangan Eun Hee tunjukkan tiap kali bertemu dengan dr. Wu.

Kim Jongin mungkin berlebihan atas sikapnya selama ini. Biasanya dia lah yang mati-matian menenangkan Eun Hee saat gadis tersebut didera cemburu yang membabi buta. Hal yang saat ini setengah mati dia selali karena Jo Eun Hee seperti menari-nari di atas rasa cemburunya. Tapi jika ditinjau ulang, Jongin harus mengakui bahwa walaupun dia seorang pria normal dia harus jujur bahwa dokter Wu tampan. Pria itu memiliki wajah perpaduan Kanada dan Cina, kemampuan menguasai empat bahasa, tinggi badan menjulang, kulit bersinar, kesabaran yang luar biasa dan tentu saja kepintaran yang membuatnya menjadi dokter di usia begitu muda tentu membuat perempuan manapun bisa jatuh dalam 0, … detik padanya. Jongin tidak mau Eun Hee termasuk dalam salah satu perempuan itu. Eun Hee hanya MILIKnya! Dia bahkan harus menuliskannya besar-besar dengan huruf kapital, M-I-L-I-K-NY-A.

 

Kim Family Apartment, Seoul.

Eun Hee kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa, hal yang sudah menjadi kebiasaan. Hal yang membuat punggung Jongin pegal karena pada akhirnya dia lah yang harus menggendong istrinya ke kamar.

“Sayang.. Kau selalu tidur di sini, ayo kita pindah ke kamar.”Jongin kembali bertaruh soal keberuntungannya dalam membujuk Eun Hee, berharap gadis itu mau berbaik hati dan berjalan dengan kakinya sendiri ke kamar.

“Gendong aku.” Saat Eun Hee mengangkat kedua tangannya ke udara, musnah sudah harapan Jongin. Dia sepertinya kehilangan harapan untuk terbebas dari rasa pegal.

“Ayolah sayang, tubuhku masih begitu sakit, ditambah kau kemarin mendorongku begitu keras.” Pria itu mencoba merajuk, mempertaruhkan keberuntungan yang nampaknya kian jauh.

“Jadi kau tidak mau menggendongku??!” Sergah Eun Hee dengan segera, pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan.

“Bukan bukan begitu hanya saja ak-”

“Kau jahat Jong, aku kan sedang mengandung anakmu!” Eun Hee berteriak kencang, teriakan yang cukup menganggu pendengaran. Dia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Jongin. Pria itu menarik napasnya dalam-dalam, mencoba maklum dengan keadaan sekaligus bertanya-tanya apakah wanita hamil bersikap seperti Eun Hee?

Setengah hati Jongin akhirnya mengalah, mengabaikan nyeri di punggungnya dan menggendong Eun Hee. Gadis itu merasakan tubuhnya terangkat ke udara dan dia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Jongin, menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria tersebut, salah satu tempat favoritnya di dunia.

“You are the best my Jong.” Dia memuji dengan tulus, tahu bahwa pengorbanan Jongin juga tak kalah banyak. Soal kompromi yang pria itu katakan tempo hari bukanlah isapan jempol belaka. Jongin tersenyum miring, mengesampingkan sakit di punggungnya yang akan bertambah parah setelah ini. Senyum Eun Hee adalah yang terbaik di muka bumi.

**

Another Day

Seperti biasa di pagi hari Eun Hee menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dia sedang menggoreng telur mata sapi saat tiba-tiba dia merasakan gejolak yang begitu kuat di perutnya. Bukan gejolak seperti ribuan kupu-kupu beterbangan yang dia rasakan saat Jongin menyentuh tubuhnya, tapi ini rasa mual yang kemudian berkembang menjadi sesuatu yang menohok tenggorokan.

“Hoeeek…” Dia berusaha untuk memuntahkan isi perutnya, yang gagal total karena pada kenyataannya dia tidak bisa menelan apapun sejak sampai di rumah. Dia mencuci mulutnya, merasakan tohokan yang yang membuatnya ingin muntah kembali.

“Hoeek… Aish jinjja.. Hoeek..” Dia terus berusaha yang sayangnya harus kembali gagal. Saat dia tengah sibuk bergelut dengan gejolak di perutnya, lagi-lagi tangan Jongin memijat pelan tengkuknya. Gadis itu menoleh sekilas, menatap nanar pada Jongin yang memandangnya tanpa ekspresi.

“Jong aku…”

“Duduklah.” Sergah Jongin seraya setengah menarik Eun Hee untuk duduk. Dia lalu mengambil tissu dan mengelap bibir istrinya.

“Aku yang akan memasak.” Dia mengatakan kalimatnya dengan singkat dan tegas, tak bisa dibantah. Pria tersebut lalu melipat lengan kemejanya dan melanjutkan pekerjaan Eun Hee yang tertunda. Dia melakukannya dengan cekatan, nampak seperti seorang profesional. Sang istri memandang punggung suaminya lekat, ada gelanyar bangga dan haru di sana. Jongin memang selalu pengertian. Dia tahu benar bahwa pria itu sudah banyak menahan diri belakangan ini. Sebenarnya dia juga tak ingin menambah beban Jongin, hanya saja kehamilan membuatnya seolah bukan dirinya yang biasa. Dia menjadi sepuluh kali lebih manja dan tentu saja lebih merepotkan dari sebelumnya.

Sepuluh menit kemudian, Jongin sudah menyelesaikan semuanya. Dia menata beberapa lembar roti bakar, telur goreng dan susu di atas meja. Dia tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari meja makan mendapati tatapan lekat Eun Hee padanya.

“Kenapa?” Ujarnya tak tahan untuk tidak mengajukan pertanyaan.

“Anyi.” Eun Hee menjawab cepat, menunduk dalam-dalam dan menyembunyikan rona wajahnya yang memerah. Dia bahkan sudah melihat seluruh bagian tubuh Jongin, luar dan dalam tanpa kecuali tapi melihat pria itu memasak di dapur tetap saja membuatnya merona, seolah dia adalah seorang remaja berusia lima belas tahun yang sedang dimabuk cinta. Efek yang ditimbulkan Kim Jongin benar-benar tak bisa diprediksi dengan mudah.

Indeed Kim Jongin.

He could be so damn gorgeous just by standing, right?

“Eun Hee-ya sebaiknya selama kehamilanmu kau tidak usah pergi ke kantor saja.” Jongin mendudukkan diri di depan Eun Hee, mengutarakan gagasannya tanpa basa basi.

Mwo? Wae?” Sejenak gadis itu segera lupa pada kekagumannya pada Jongin dan berniat mengajukan protes atas apa yang Jongin sampaikan. Dia tidak mau berdiam diri di rumah sepanjang hari seperti dulu.

“Aku akan menyuruh asistenmu di perusahaan untuk mengurus semuanya. Lee Ahjussi sudah bekerja di perusahaanmu selama 25 tahun, kita bisa mempercayainya.”

“Tapi Jong aku-”

“Aku akan mengatur jadwal kapan kau bisa pergi ke kantor.” Jongin mengabaikan protes yang akan dikatakan Eun Hee. Keputusannya sudah bulat untuk mengatur jadwal bekerja istrinya. Bukan dia menjadi pria yang egois, dia hanya tidak mau Eun Hee jatuh sakit karena kepayahan selama masa kehamilannya.

“Aku rasa 2-3 kali seminggu cukup untuk mengontrol pekerjaan mereka. Lagi pula masih ada eommoniem dan aboenim, mereka tentu tidak akan keberatan, kan?” Dia menambahkan dengan sebuah kalimat retoris di akhir penjelasan.

“Tapi Jong-”

“Aku sedang tidak memberimu kesempatan untuk bernegosiasi Mrs. Kim, ini demi kebaikanmu dan juga anak kita. Melihatmu mengalami morning sickness seperti itu apa kau pikir aku tidak khawatir, huh??” Suara Jongin begitu datar dan menusuk, tegas dan tanpa bisa dibantah, tapi tatapannya mengisyaratkan kekhawatiran yang luar biasa.

Jo Eun Hee terdiam beberapa saat. Jongin sudah menghembuskan napasnya dengan kasar berkali-kali, bersiap dengan perdebatan yang kemungkinan besar akan terjadi di antara mereka. Sebab, dia tahu benar bahwa Eun Hee tidak akan suka jika terlalu lama berdiam diri di dalam rumah. Tapi yang terjadi sungguh di luar perkirannya, gadis itu meletakkan pisau dan garpunya dengan keras hingga menimbulkan bunyi berkelontangan. Dia lalu menghambur ke pelukan suaminya seraya menciumi kedua pipi Jongin tanpa henti.

“I love you Kim Jongin, with all the pieces of my heart” Eun Hee terisak di sana, di pelukan hangat Jongin. Pria itu sempat tertegun selama beberapa saat sebelum mengangkat wajah Eun Hee yang penuh air mata, mengecup setiap inchi jejak air mata di sana dengan bibirnya.

“Baby don’t cry.. I love you more.” Satu kecupan hangat di dahi Eun Hee, membuat gadis itu memejamkan mata. Ada jutaan kata cinta yang Jongin tak mampu ucapkan di sana.

**

Kim Industries, Gangnam-gu, Seoul.

Siang harinya Jongin sedang menghadiri rapat di Huayi Enterprise bersama sang CEO Huayi, Lu Han. Dia sudah berniat untuk tidak masuk kerja dan menemani Eun Hee tapi rasanya akan sangat egois jika dia mengedepankan kepentingan pribadi dan mengesampingkan kepentingan banyak orang di perusahaannya. Terlebih pertemuan dengan Huayi Ent bukanlah pertemuan bisnis biasa mengingat Kim Industries akan membangun jaringan perhotelan di Beijing, maka tidak heran Kim Indutries memilih bekerjasama dengan Huayi mengingat Huayi adalah perusahaan properti no.1 di Cina.

“Jadi Mr.Kim aku rasa pembangunan Lao Sheng Hotel bisa dimulai pada musim semi tahun depan dan-” penjelasan Lu Han terputus karena getaran ponsel Jongin. Sedikit tergesa-gesa Jongin megambil ponselnya, ada sebuah pesan singkat dari istrinya.

To        : Jongin Kim

From    : Eun Hee Jo

Sayang...

Jongin hanya membaca sekilas pesan singkat istrinya dan memasukkan kembali ponsel bercasing putih tersebut pada saku tuxedonya. Lu Han melirik sekilas, menghentikan penjelasannya lalu mengangkat bahu sebagai isyarat memahami.

“Maaf silahkan lanjutkan.” Jongin berujar rikuh, mempersilahkan Lu Han untuk kembali melanjutkan presentasi. Lu Han hanya mengangguk dan kembali pada layar power point yang tengah menampilkan rencana mega proyek mereka.

“Jika kita mulai melakukan pembangunan pada musim semi maka estimasi penyelesaian seluruh infrastruktur-”

Satu kalimat pun belum Lu Han selesaikan saat ponsel Jongin kembali bergetar. Pria Cina tersebut kembali menghentikan presentasi, menatap beberapa karyawan mereka lalu kembali mengangkat bahu, maklum.

To        : Jongin Kim

From    : Eun Hee Jo

“Kenapa tidak membalasku?”

Jongin menghela napas panjang, menatap rikuh tak hanya pada Lu Han tapi juga pada orang-orang di sana. Tak lama dia segera memasukkan ponselnya kembali saat dalam hitungan detik benda persegi panjang tersebut bergetar untuk yang ketiga kalinya. Perasaanya mendadak tak enak.

To        : Jongin Kim

From    : Eun Hee Jo

“Kau jahat Jong, anakmu kan sedang merindukanmu.”

            Benar saja, Eun Hee mulai merajuk. Dia memijit pelipisnya yang mendadak sakit. Jo Eun Hee semakin membuatnya kerepotan akhir-akhir ini. Dan hari ini bertambah kian parah. Berikutnya serentetan pesan dari istrinya cukup membuat rapat pada hari itu gagal total, proyek senilai jutaan dollar nampaknya harus dia kesampingkan demi Jo Eun Hee tercinta.

To        : Jongin Kim

From    : Eun Hee Jo

“Kau sudah tidak menyayangiku lagi Jong”

 

To        : Jongin Kim

From    : Eun Hee Jo

“Aku akan bertemu dengan dr.Wu sekarang di Remontti Resto!”

Pesan terakhir Eun Hee membuat Jongin hampir saja melemparkan ponselnya saat itu juga. Kehamilan membuat Eun Hee menjadi kian ahli dalam mendebat, juga dalam memicu konflik di antara mereka. Dia tahu benar bagaimana memancing emosi, membuatnya cemburu buta, dan yang paling parah membuatnya selalu mengalah karena kehamilan gadis tersebut. Dia hanya butuh beberapa detik untuk berpikir sebelum dengan segenap kepanikan berpamitan pada Lu Han dan semua staff yang ada di sana.

Xiao Lu du bu qi (maaf) ada keadaan darurat yang harus aku tangani. Aku sungguh minta maaf tapi ini akan sangat gawat jika aku tidak segera menanganinya.”

“Hal gawat? Maksudmu apa Kim Jongin?” Lu Han menaikkan sebelah alisnya, menanyakan kalimat yang Jongin ucapkan.

“Kau tahu? Hal-hal seperti perang dunia, atau mungkin lebih parah dari perang di Harry Potter dan para pelahap maut di Hogwarts, sungguh! Jadi, kau bisa melanjutkan rapat hari ini dengan asistenku Mr.Jung.” Jongin mengucapkan kalimatnya dengan sangat cepat, tanpa jeda hingga membuat Lu Han yang bukan orang Korea kebingungan. Dia hanya menangkap hal-hal seperti Harry Potter dan Mr.Jung. tapi melihat kepanikan di wajah Jongin, dia jadi tidak tega untuk menuntut penjelasan lebih. Pria itu baru akan membuka mulut untuk menanggapi kalimat Jongin saat rekan kerjanya itu setengah berteriak, diiringi dengan langkah gedebugan menuju pintu keluar.

“Ya Tuhan.. Kim Eun Hee.. Baiklah aku permisi.” Teriak Jongin dengan lantang. Orang-orang di sana saling berpandangan, sebelum tertawa terbahak-bahak begitu Jongin sudah benar-benar meninggalkan ruangan. Hari ini mereka tahu satu hal, ternyata bos besar yang mereka kagumi begitu tunduk pada istrinya.

**

Jongin menginjak dalam-dalam pedal gas All Blacked Audi R8nya. Dia tidak peduli dengan makian orang-orang, yang dia butuhkan sekarang dia harus mencegah istrinya bertemu dengan dr. Wu! Satu nama dan Jongin yang biasanya bisa menahan emosi serta mengalah mendadak kehilangan akal sehat.

Suara berdecit karena gesekan ban mobil dengan aspal terdengar memekakkan telinga. Pria itu segera melempar kunci mobilnya pada petugas valet parking yang ada di halaman sebuah restoran Itali. Otaknya sudah macet, yang ada di pikirannya adalah bagaimana dengan secepat yang dia bisa menghentikan aksi fangirl Jo Eun Hee. Langkah serampangannya membuat pria tersebut lagi-lagi menjadi tontonan banyak orang di dalam restoran. Beberapa di antara mereka terang-terangan saling berbisik, menduga-duga alasan kenapa seorang pria nyaris mati karena kepanikan. Tak berapa lama langkahnya terhenti mendapati sosok Eun Hee yang tengah duduk di sebuah meja dekat jendela, di hadapannya ada seorang wanita.

“Apa dr.Wu sudah berubah menjadi wanita?” Pikiran bodohnya mulai menguasai. Dia lalu mengatur napas dengan baik, mencoba menstabilkan langkah kakinya agar tak menjadi bahan olok-olok Eun Hee.

“Jong! Kemari!” Eun Hee melambai pada Jongin saat dilihatnya sosok yang sedari tadi sudah dia tunggu. Wajahnya begitu sumringah, berbanding terbalik dengan nada arah pada pesan yang dikirimkannya tadi.

“Aku kira kau bertemu dengan dr.Wu?” Jongin mengangkat sebelah alisnya, melemparkan pandangan penuh tanya pada Eun Hee. Dia mendudukkan diri di sebelah istrinya, memandang sekilas pada wanita yang duduk di sebelah Eun Hee. Dia kembali memandang wanita tersebut, kali ini kedua iris hitam itu nyaris tidak berkedip saat mendapati pandangan maha indah di depannya. Wanita tersebut memiliki rambut panjang bergelombang, mata bulat, wajah oval, serta kulit seputih susu. Sebuah definisi ideal untuk kecantikan. Jongin bahkan dengan susah payah menelan salivanya saat wanita tersebut menatapnya dengan iris coklat terang yang membuatnya semakin cantik.

“Hello.” Si wanita menyapa Jongin, mengulas sebentuk senyum yang terpatri di wajahnya yang ayu. Jongin masih menganga, ada setetes saliva di sudut bibirnya.

140411_smk3_316

“EHEM!” Eun Hee berdeham keras mendapati tingkah Jongin yang bak orang bodoh di hadapan seorang wanita cantik. Rasanya dia ingin menjambak dan mengacakacak rambut Jongin saat itu juga.

“Kau lupa tujuanmu kemari Kim Jongin-ssi?” Dia memanggil formal pada suaminya, membelalakkan matanya yang sudah bulat dan membuat Jongin hanya bisa menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Pria itu kehabisan kata-kata, mencoba mencari kalimat yang pas untuk dikatakan tapi nihil. Bersamaan dengan itu dr.Wu mendatangi mereka. Dia baru menerima telfon dari seorang pasien. Untuk pertama kalinya Jongin begitu senang dengan kehadiran pria tersebut, dia bahkan sudah bersorak sorai dalam hatinya. Karena kehadiran dr. Wu menyelamatkannya dari tatapan membunuh Eun Hee.

“Is everything okay?” Wanita yang sedang dikagumi Jongin berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih.

Everything is ok. A patient just need my suggestion. There’s nothing to be worried, ma chérie.” dr. Wu tersenyum dan menatap wanita itu. Tatapan yang diberikan juga sangat berbeda. Untuk pertama kalinya baik Jongin dan Eun Hee memperhatikan keduanya dengan seksama, terlarut dalam pusaran cinta yang tak terlihat di antara mereka. Jongin paham betul, bahkan sebelum dr.Wu menjelaskan, sosok wanita di hadapannya tentu adalah sosok yang spesial. Cara dr.Wu memandang si wanita seolah wanita tersebut berarti dunia untuknya, dan dia merasakan hal yang sama pada Eun Hee.

“Jongin-ssi juga di sini?” dr. Wu mengalihkan pandangannya pada Jongin, memperkenalkan si wanita yang sedari tadi dikaguminya.

“Ah perkenalkan ini istriku, Na Ra Wu.”

“MWOYA? ISTRIMU???” Jongin memekik keras, tak bisa menahan diri dari keterkejutan. Teriakanya disambut injakan keras di kaki yang dilakukan oleh Eun Hee, hadiah karena pria tersebut sudah bersikap tak sopan dengan berteriak-teriak. Jongin meringis tertahan, melempar pandangan marah pada Eun Hee yang justru mengabaikannya.

Hi Mr. Kim, pleasure to meet you.” Na Ra mengulurkan tangan, yang segera disambut Jongin dengan ekspresi kosong. Dia bisa merasakan tekstur kulit sehalus kulit bayi milik Na Ra, juga senyum tulus yang diberikan wanita tersebut.

“Jadi dr. Wu sudah menikah?” Kalimat bodoh itu kembali terlontar dari mulut Jongin, mengulang pertanyaan tak langsung yang sebelumnya dia lontarkan.

Ne.. Kami sudah menikah selama enam bulan. Istriku baru pulang dari Prancis jadi bahasa koreanya tidak terlalu bagus.” Jongin hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali, menggumam dalam hati tentang sosok Na Ra yang masih saja dia kagumi.

“Lihat kan Jong, tidak ada yang perlu kau cemburui dr. Wu adalah pria beristri!” Suara melengking Eun Hee membuyarkan pikiran-pikirannya. Gadis itu mengerutukkan gigi-giginya geram dan berbisik di telinga Jongin, memastikan hanya namja itu yang bisa mendengarnya.

“Baiklah, kalian ingin memesan apa?” Na Ra berujar, seperti suaminya, wanita itu juga peka terhadap situasi yang jika tidak dihentikan maka akan ada perdebatan diantara pasangan Kim.

Eun Hee menarik napasnya dalam, mencoba membuang kemarahan yang sedari tadi bercokol di hatinya karena tingkah Jongin. Dia membuka buku menu, memilih banyak menu sesuka hati.

“Aku mau escargot, le cassaoulet, foie gras, la fôret noir, gateau nantais, ratatouille dan-”

“Apa istriku sudah berubah menjadi gumiho?” Sergah Jongin, dia memasang wajah tak bersalah bahkan setelah mengatai istrinya serupa dengan siluman.

“Jika aku gumiho aku akan lebih memilih untuk memakanmu Jong!” Eun Hee menanggapi dengan santai. Kedua matanya masih sibuk memilih-milih menu yang ingin dia pesan.

“Kau bisa memakanku setiap hari sayang.. Kau tahu itu.” Jongin mengerling nakal, sejenak melupakan ada Mr.dan Mrs. Wu disana.

“Pervert!”

“Kalian romantis sekali” Na Ra memuji dengan jujur. Dia lagi-lagi tersenyum, menampilkan eye smile­-nya.

Mwo? Romantis? Na Ra-ssi suamiku sangat mesum, dan-”

“Dan tampan, dan seksi dan menggoda. Aku tahu sayang kau sudah mendesahkannya ribuan kali saat kita bercin-” Eun Hee segera mendekap mulut Jongin dengan kedua tangannya. Dia masih menahan diri untuk tidak menyumpal mulut Jongin dengan syal yang dikenakannya hari itu. Kim Jongin memang tak bisa menjaga mulut mesumnya.

“Berhenti berbicara yang tidak-tidak Jong!” Eun Hee mengancam, melepaskan bekapan di mulut Jongin setelah dilihatnya wajah Jongin memerah karena kesulitan bernapas.

“Tidak apa-apa, kami mengerti. Bukankah seru memiliki pasangan yang bisa terus berdebat dengan kalian, huh?” Kali ini dr. Wu gantian memuji, sebelah tangannya menggenggam tangan Na Ra di bawah meja.

“Aku rasa Kim Jongin sedikit tidak waras.”

“Yak! Kim Eun Hee!” Jongin kembali berteriak. Orang-orang di dalam restoran kembali menatap heran pada Jongin. Mereka berempat terdiam sejenak, sebelum tertawa keras bersama karena tingkah konyol yang tak henti dilakukan baik Jongin maupun Eun Hee.

**

Biasanya mobil yang berisi Jongin dan Eun Hee di dalamnya tidak pernah sepi dari perdebatan. Tapi kali ini suasana hening menyelimuti. Eun Hee memilih untuk diam karena dia memberikan kesempatan pada Jongin untuk berbicara terlebih dahulu, sekadar memberinya pendapat atas makan siang yang sudah mereka lalui tadi. Sementara itu Jongin justru masih sibuk menebak-nebak tujuan istrinya mengadakan makan siang yang nyaris mengacaukan proyek jutaan dolarnya. Untuk hal satu ini terkadang otaknya begitu lambat bekerja.

Saat mobil berwarna hitam milik Jongin akhirnya sampai di basemen apartemen mereka, keduanya tak lantas keluar dari mobil. Mereka memilih berdiam diri di sana, sebelum akhirnya keduanya berbicara bersamaan, memecah keheningan.

“Jong..”

“Eun Hee-ya..”

Mereka memanggil nama masing-masing secara bersamaan, saling bertatapan sebelum Jongin mempersilahkan Eun Hee untuk berbicara terlebih dahulu. Di dalam hatinya berspekulasi, mungkin Eun Hee akan mengatakan kata-kata romantis atau semacamnya. Sebab, biasanya gadis itu akan mendadak menjadi begitu melankolis saat hari menjelang malam. Kebiasaan yang sejujurnya terlihat aneh.

“Ladies first.”

“Aku mau tteopokki super pedas.” Jongin mengangakan mulut begitu kalimat tersebut keluar dari bibir Eun Hee. Spekulasinya sudah hancur dalam hitungan detik saat itu juga.”

“Lalu odeng, jjangmyeon, bulgogi.. Ah ya dan jus lemon.. Aku butuh sesuatu yang asam.”

Dan sungguh Jongin ingin berlari ke neraka saja saat itu, dia berpikir bahwa istrinya sudah benar-benar menjadi siluman berekor sembilan karena mereka bahkan belum genap tiga puluh menit menghabiskan semeja besar hidangan Prancis di restoran.

“Demi Tuhan Kim Eun Hee kau baru saja makan!”

“Aku sedang tidak berselera tadi karena kau terus memandangi Na Ra Wu tanpa berkedip. Seleramu soal wanita memang bagus, tapi bisa tidak kau tidak melakukannya secara terang-terangan di depan istri sahmu?” Eun Hee mengomel, menyindir habis-habisan Jongin yang terkagum-kagum pada Na Ra Wu.

“Kau serius soal tidak berselera? Kau bahkan menghabiskan semua menu yang kau pesan dan-”

“KAU MAU MEMBELIKANNYA ATAU TIDAK? Ini kan keinginan anakmu!” Eun Hee berteriak, lagi-lagi membuat indera pendengaran Jongin sakit. Jika sudah seperti ini, tak ada pilihan lain bagi pria tersebut selain mengalah.

“Tapi Eun Hee-ya perutmu bisa sakit jika terlalu banyak makan.” Jongin berusaha membujuk, yang jelas berakhir sia-sia saat “ngidam” Eun Hee sedang pada titik tertinggi.

Eun Hee menatap Jongin sekilas dan membuka pintu mobil mereka. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan segera berlari menghampiri Eun Hee.

“Baiklah sayang tunggu sebentar di sini aku akan membelikan pesananmu.”

“Jinjja?” Mata Eun Hee begitu berbinar.

“Eoh”

“15 menit! Aku memberimu waktu 15 menit dan tidak lebih!”

“Mwoya? 15 menit? Itu baru perjalanan kesana, bagaimana jika disana aku masih harus mengantri juga-”

“15 menit atau aku akan menemui dr.Wu lagi!”

“Kim Eun Hee!!!”

“15 Menit dimulai dari sekarang!!” Eun Hee mengabaikan protes Jongin, lalu menyetel stop watch di ponselnya. Jongin segera berlari kembali ke mobilnya, menginjak pedal gas dalam-dalam.

“Sayang.. Aku menunggumu di apartemen kita. Aku mencintaimu!” Eun Hee setengah berteriak saat Jongin dan mobilnya menghilang dari pandangan.

**

Kim Family Apartment

Eun Hee duduk di ruang makan apartemen mereka sambil terus memandangi ponselnya. Sisa waktu yang dimiliki Jongin tak lebih dari dua menit. Jika suaminya gagal maka dia akan benar-benar akan menelfon dr. Wu. Terlihat kejam memang. Dia juga tidak tahu kenapa dia bersikap seenak perutnya sendiri, terlebih lagi melibatkan dr. Wu yang sebenarnya sama sekali tak ada hubungannya dengan keinginannya saat ini. Hanya saja, hanya nama dr. Wu yang akan membuat Jongin tanpa pikir panjang menuruti setiap kemauannya. Kemauan anak mereka, mungkin?

5…

4…

3…

2…

1…

Eun Hee menghitung dalam hati seraya terus memandangi layar ponselnya. Tepat saat dia hendak menekan tombol dial untuk menelepon dr. Wu terdengar pintu apartemen dibuka dengan keras. Jongin terduduk di depan pintu, kepayahan dan nyaris kehabisan napas. Setengah berlari Eun Hee menghampiri Jongin, menghentikan kalimat yang akan keluar dari mulutnya saat itu juga.

“Aku baru saja sudah ak-”

“Ya Tuhan Jong, kau tidak apa-apa?” Eun Hee memekik tertahan mendapati keadaan suaminya yang kacau. Pria itu duduk dengan kaki lurus, rambut acak-acakan dan dada yang naik turun dengan cepat, menandakan bahwa Jongin sudah berusaha mati-matian menuruti kemauannya. Gadis itu lalu berlari ke dapur dan mengambilkan air putih untuk Jongin.

“Minumlah.”Ujarnya saat sudah kembali sampai di hadapan Jongin dan dengan segera menyodorkan air putih yang diambilnya. Tanpa bicara Jongin mengosongkan gelas yang disodorkan Eun Hee dalam sekali teguk.

“Kau tidak apa-apa Jong? Apa-” Gadis itu berujar khawatir yang ditanggapi Jongin dengan memberikan tatapan menusuk. Eun Hee memundurkan tubuhnya beberapa langkah, merasa ngeri dengan wajah suaminya.

“Kau tidak menelepon dr. Wu kan?” Pertanyaan itu muncul begitu saja dari bibir Jongin. Eun Hee sudah berpikir yang tidak-tidak mengenai alasan di balik tatapan bengis Jongin.

“Aku baru saja akan menelfonnya tapi yah..kau datang tepat waktu.” Eun Hee tersenyum girang, mengabaikan wajah suaminya yang kian masam. Dia lalu membantu Jongin berdiri menutup pintu sebelum berdiri tepat di depan suaminya.

“Aku mencintaimu Jong.” Ucapnya tulus. Dia lalu mengecup bibir Jongin, mendiamkannya tanpa pergerakan apapun di sana. Jongin begitu kaget dengan ciuman tiba-tiba istrinya, tapi toh dia akhirnya berinisiatif untuk menggerakkan bibirnya di atas bibir Eun Hee.

Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, tapi lambat laun suhu tubuh Jongin seperti terbakar, dia menggigit-gigit pelan bibir Eun Hee sehingga ia bisa mendapatkan akses masuk ke rongga mulut istrinya. Tangan Jongin tidak tinggal diam, dia mengelus pelan paha mulus Eun Hee dari balik dress yang dikenakannya, membuat Eun Hee mengerang dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Jongin.

“Kenapa?” Jongin menatap Eun Hee tidak mengerti.

“Aku lapar Jong.” Jongin mengangguk paham sebelum kembali melumat panas bibir istrinya. Eun Hee yang hampir kehabisan oksigen lagi-lagi menjauhkan tubuhnya.

“Aku benar-benar lapar dan aku ingin makan apa yang sudah kau belikan.”

Eun Hee menggerutu, menunjuk pada sekantung makanan yang masih berada di tangan Jongin. Pria itu mendengus kesal dan menyerahkan bungkusan makanan yang dengan susah payah dibelinya itu setelah membayar ribuan won lebih mahal karena dia harus memotong antrian. Beruntung orang-orang hanya berteriak memakinya, setidaknya orang-orang tidak memukulinya, kan ?

Tanpa perasaan berdosa, Eun Hee menyambar makanan di tangan Jongin, berjalan dengan santai menuju pantry untuk segera menyantapnya. Dia memindahkan makanan yang dibelikan Jongin pada piring dan mangkuk, lalu menuangkan jus lemon pada sebuah gelas kristal.

Gadis itu menghampiri Jongin yang kali ini sudah duduk dengan bibir mengerucut di ruang tengah. Melihat hal tersebut Eun Hee hanya mengangkat bahu, mendudukkan diri di sebelah Jongin lalu menghabiskan semua makanan yang sudah dibeli Jongin tanpa mengatakan apapun lagi.

“Maafkan aku Jong, ini keinginan anakmu.” Dia berujar setelah menandaskan semua makanannya. Jongin tidak merespon, wajahnya masih luar biasa kesal. Eun Hee bahkan tak membagi makanan yang sudah susah payah dibelinya itu, menawarkan pun tidak.

“Apa aku merepotkanmu?” Eun Hee kembali berujar, kali ini nada suaranya melemah.

“Kelihatannya?” Jongin hanya mengerling sekilas pada istrinya. Dia tahu benar bagaimana membuat istrinya merasa bersalah. Pria itu sukses besar karena saat ini perasaan bersalah menyergap Eun Hee, membuatnya sesak. Selama ini Eun Hee adalah gadis mandiri yang biasa melakukan apapun sendiri selama dia bisa. Tapi sekarang kondisi berkebalikan menimpanya.

“Maafkan aku Jong.. Aku hiks…” Satu isakan lolos dari bibir Eun Hee dan Jongin tersentak.

“Apa dia sudah mengatakan sesuatu yang salah?” Ujar Jongin dalam hati, dia belum bisa mengatakan apapun. Yang dia lakukan selanjutnya adalah mendekat ke arah Eun Hee, memeluknya.

“Apa aku melakukan suatu hal yang menyakitimu lagi?” Dia bertanya, kepalanya dia letakkan di bahu gadis tersebut.

“Tidak Jong aku hiks.. Aku lah yang salah.. Hiks.. Aku merepotkanmu dan hiks.. Aku membuatmu marah hiks.. Aku.. Aku takut kau akan berubah sedingin dulu lagi..hiks…” Eun Hee mengatakan kalimatnya dengan terbata-bata. Air mata terus mengalir dari kedua matanya tanpa bisa dihentikan. Jongin menangkup wajah istrinya yang penuh air mata, dia menghapus cairan tersebut dengan kecupan bibirnya.

“Maaf sayang sudah membuatmu takut dan khawatir. Apa kepribadianku seburuk itu hmm?” Jongin mungkin setengah mati kesal dengan apa yang Eun Hee lakukan tadi. Tapi melihat gadis itu menangis dengan penuh penyesalan membuatnya tak tega juga. Dia justru meminta pendapat tentang kepribadiannya, merasa takut jika dia sudah berlaku demikian buruk.

“Tidak Jong aku benar-benar takut kehilanganmu.” Eun Hee menjawab dengan sesegukan, meletakkan tangannya di atas tangan Jongin yang melingkar di perutnya. Dia berujar jujur kali ini, mengesampingkan perdebatan yang selama ini sering kali terjadi di antara mereka.

“Tidak akan sayang. Aku sudah pernah mengatakannya, kan? Aku tidak membuat janji yang muluk-muluk atau semacamnya. Aku juga tidak bisa berjanji untuk setia sehidup semati denganmu. Aku rasa aku hanya perlu mengatakan bahwa aku akan bertahan denganmu sesulit apapun keadaannya nanti.” Jongin mengusap air mata Eun Hee dengan ibu jarinya. Air mata yang masih terus menerus mengalir sedari tadi.

“Kau tahu apa saat terbaik di hidupku?” Eun Hee menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Jongin, dadanya sangat sesak sehingga dia kesulitan untuk menjawab.

“Hari di mana kau mengahalau peluru di depanku, nyaris mati karena menyelamatkanku. Terdengar kejam, ya? Tapi hari itu adalah hari di mana pada akhirnya aku tahu bahwa kau mencintaiku, bahwa cinta yang aku rasakan selama ini tidak hanya milikku saja. Aku sempat berpikir bahwa mungkin kau tidak bisa selamat saat itu. Dan jika hal tersebut benar-benar terjadi aku pasti akan menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia karena harus kehilangan istri yang belum sempat aku perlakukan dengan baik kala itu.” Jongin berkata jujur, menyatakan sesuatu yang belum pernah dia ungkapkan.

“Jong..kau membuatku merasa aku telah melakukan hal yang luar biasa hebat. Semua orang akan melakukan hal yang sama jika mereka berada di posisiku.

“Tidak Kim Eun Hee, apa yang kau lakukan tentu bukan hal sepele, kau menyelamatkan nyawaku, aku harap kau tidak lupa itu. Semua orang bisa jatuh cinta Eun Hee-ya, tapi butuh keberanian besar untuk menghalau sebuah peluru dengan tubuhnya sendiri.”

“Jong.. Aku-”

You’ve saved my life dear Eun Hee.” Tukas Jongin , menghentikan sergahan yang akan Eun Hee lontarkan. Dia sedang tidak mau didebat kali ini. Dia lalu mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya, dan Eun Hee tidak mampu berkata-kata lagi.

“Aku bukan orang yang suka berhutang tentu saja, tapi sayangnya ada hal-hal yang tidak bisa aku ubah dengan uang, termasuk kenyataan bahwa kau sudah menyelamatkan nyawaku. Eun Hee-ya.. Aku mencintaimu”

Jongin mengecup pelan pipi kanan Eun Hee, membisikkan kalimat cinta yang entah sudah keberapa ratus kali dia katakan pada istrinya itu.

“Baiklah sudah cukup acara mellow-nya.” Ekspresi Jongin berubah drastis, dia menanggalkan sisi romantisnya dan kembali pada dirinya yang konyol.

“Ayo..anak kita butuh nutrisi?” Jongin mengedipkan sebelah matanya, mengulurkan tangan dan mengajak Eun Hee berdiri.

“Jong..” Eun Hee menatapnya dengan tatapan takut-takut. Suaminya benar-benar berkepribadian ganda. Bagaimana bisa seseorang yang normal menjadi romantis lalu dalam hitungan detik berubah menjadi amat mesum?

“Eiiii.. Sekarang kau yang pervert! Aku tidak mengajakmu bercinta sayang, benar-benar memberi anak kita nutrisi. Kau harus meminum susu kehamilanmu!” Jongin nyaris terbahak mendapati wajah konyol Eun Hee yang sudah salah menduga.

”KIM JONGIN … AKU TIDAK MESUM!” Teriak gadis itu keras, lagi-lagi Kim Jongin butuh memeriksakan pendengarannya ke dokter.

**

 

 

Advertisements